BATU, RADAR BATU - Sistem pendidikan inklusi di Kota Batu terus diperluas. Tahun ini, sebanyak 406 anak berkebutuhan khusus (ABK) resmi mengikuti pembelajaran di sekolah reguler mulai tingkat KB hingga SMP.
Dinas Pendidikan Kota Batu menyebut perluasan akses pendidikan inklusif menjadi bagian dari implementasi kebijakan nasional terkait pemenuhan hak pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Kepala Disdik Kota Batu Alfi Nurhidayat menjelaskan, total 406 siswa tersebut tersebar di 75 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.
BACA JUGA: 5 Tanda Kamu Terlalu Oversharing di Media Sosial, Nomor 3 Paling Sering Terjadi
Rinciannya, 47 siswa berada di 24 Kelompok Bermain (KB), 88 siswa di 21 TK, 217 siswa di 22 SD, dan 54 siswa di delapan SMP.
“Data ini masih bergerak karena proses input dan verifikasi sekolah belum sepenuhnya selesai,” jelas Alfi.
Menurutnya, pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen mewajibkan sekolah menyediakan kuota afirmasi inklusi sebesar 2 hingga 5 persen dari total daya tampung siswa.
Namun, Disdik menegaskan pendidikan inklusi tidak cukup hanya membuka akses pendaftaran. Sekolah juga harus menyiapkan sistem pembelajaran yang benar-benar ramah disabilitas.
Peran Guru Pendamping Khusus (GPK), kesiapan guru kelas, hingga penguatan aturan antiperundungan menjadi perhatian utama.
“Anak-anak ABK harus merasa nyaman dan aman saat belajar bersama siswa reguler,” katanya.
Salah satu sekolah yang sudah menerapkan sistem inklusi adalah SMP Negeri 3 Batu. Kepala sekolah Budi Prasetyo mengatakan, saat ini pihaknya mendampingi tiga siswa ABK yang belajar secara penuh di kelas reguler.
“Terdapat dua siswa slow learner dan satu siswa autisme. Semua kami dampingi agar bisa membaur dan berkembang bersama siswa lainnya,” ujar Budi.
Disdik berharap penguatan pendidikan inklusi di sekolah reguler mampu membuka akses pendidikan yang setara sekaligus membangun budaya toleransi sejak usia dini. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan