BATU, RADAR BATU – Berusaha mendapatkan nilai terbaik tentu merupakan hal yang positif. Namun, ketika siswa terus-menerus menuntut diri untuk sempurna, merasa bersalah saat beristirahat, atau menganggap dirinya gagal karena tidak mencapai target tertentu, kondisi tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental.
Fenomena ini semakin banyak ditemukan di kalangan pelajar. Di tengah persaingan akademik, tuntutan prestasi, serta keinginan untuk memenuhi harapan orang tua maupun lingkungan, sebagian siswa justru menjadi terlalu keras terhadap dirinya sendiri.
Tekanan Berlebihan Bisa Menimbulkan Kelelahan Mental
Dilansir dari laman Scholars Education, belajar secara berlebihan atau overstudying tidak selalu menghasilkan prestasi yang lebih baik. Sebaliknya, tekanan yang terus-menerus dapat membuat siswa sulit berkonsentrasi dan kesulitan menyerap informasi baru.
Baca Juga: Tak Hanya Tren, Membawa Tumbler Dinilai Membantu Siswa Lebih Rutin Minum Air
Akibatnya, siswa yang menghabiskan banyak waktu untuk belajar justru dapat mengalami penurunan performa akademik. Mereka menjadi mudah terdistraksi, sulit fokus di kelas, dan tidak maksimal saat mengerjakan tugas maupun ujian. Kebiasaan memaksa diri untuk terus belajar sering membuat siswa mengorbankan waktu istirahat. Padahal, kurang tidur dapat mengganggu kemampuan otak dalam memproses informasi dan meningkatkan risiko stres.
Tidak hanya berdampak pada pikiran, tekanan berlebih juga dapat memunculkan keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri perut, hingga kelelahan berkepanjangan.
Prestasi Bisa Berubah Menjadi Beban
Laman Smile Consulting Indonesia menjelaskan bahwa prestasi seharusnya menjadi sarana untuk berkembang. Namun, prestasi dapat berubah menjadi beban ketika didorong oleh tuntutan eksternal, seperti takut mengecewakan orang tua, takut dikritik, atau ingin mendapat pengakuan dari orang lain.
Siswa yang terlalu keras pada dirinya sendiri sering kali mengaitkan harga dirinya dengan hasil yang diperoleh. Mereka merasa berharga hanya ketika berhasil dan merasa gagal ketika tidak mencapai target tertentu.
Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memunculkan kecemasan, sulit rileks, mudah marah, serta perasaan bersalah ketika tidak produktif. Sebagian siswa juga menjadi takut melakukan kesalahan sehingga enggan mencoba hal-hal baru. Tekanan yang terus berlangsung dapat menyebabkan burnout atau kelelahan mental akibat tuntutan yang berkepanjangan.
Baca Juga: Tren Tote Bag di Kalangan Pelajar, Bagaimana Dampaknya?
Penting Menetapkan Target yang Realistis
Para ahli menyarankan agar siswa memiliki target yang menantang tetapi tetap realistis. Tidak semua hal harus sempurna, dan setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda. Mengatur waktu belajar dengan baik, memberi ruang untuk beristirahat, tidur cukup, serta menghargai proses yang telah dijalani merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.
Prestasi memang penting, tetapi kesehatan mental tidak kalah penting untuk diperhatikan. Dengan bersikap lebih bijak terhadap diri sendiri, siswa dapat tetap berkembang tanpa harus terjebak dalam tekanan yang berlebihan.
Editor : Aditya Novrian