BATU, RADAR BATU – Pernah merasa baru benar-benar fokus belajar saat tugas sudah mepet deadline? Atau tiba-tiba sangat rajin mengerjakan banyak hal ketika rasa panik muncul? Fenomena ini kini sering dialami siswa dan dikenal dengan istilah panic productivity.
Panic productivity adalah kondisi ketika seseorang mendadak menjadi sangat produktif karena didorong rasa cemas, takut gagal, atau tekanan waktu yang semakin sempit. Awalnya sulit memulai tugas, namun ketika deadline semakin dekat, tubuh dan pikiran justru bekerja sangat cepat. Sekilas kondisi ini terlihat membantu karena tugas akhirnya selesai. Namun jika terus terjadi berulang, kebiasaan ini dapat memicu kelelahan mental dan stres pada siswa.
Produktif karena Panik dan Takut Tertinggal
Dilansir dari laman Praktiqu, kondisi ini berkaitan dengan productivity anxiety, yaitu kecemasan karena merasa belum cukup produktif atau takut tidak mampu memenuhi target tertentu Siswa yang mengalami kondisi ini biasanya merasa terbebani oleh tugas dan deadline. Mereka cenderung takut hasil kerjanya tidak cukup baik, sulit merasa puas dengan pencapaiannya, dan merasa harus terus melakukan sesuatu agar tidak tertinggal.
Baca Juga: “Overplanning” pada Siswa, Banyak Rencana tapi Sulit Menjalankannya
Kecemasan ini sering membuat seseorang sulit fokus di awal, bahkan menunda pekerjaan. Namun ketika tekanan semakin besar, otak memasuki “mode darurat” sehingga siswa tiba-tiba mampu belajar atau mengerjakan tugas dalam waktu lama tanpa berhenti. Fenomena ini juga dipengaruhi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial. Banyak siswa merasa harus selalu terlihat sibuk, aktif, dan produktif agar dianggap berhasil.
Bisa Memicu Kelelahan Mental
Laman Nurturing Minds Counseling menjelaskan bahwa productivity anxiety dapat membuat seseorang merasa bersalah ketika beristirahat. Bahkan saat sedang libur, pikirannya tetap dipenuhi daftar tugas yang belum selesai. Akibatnya, siswa menjadi sulit menikmati waktu santai karena merasa harus terus produktif. Mereka juga cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan takut dianggap gagal.
Jika terus terjadi, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan mental dan fisik. Siswa mungkin sering begadang, sulit mengatur waktu, mudah stres, hingga kehilangan energi setelah menyelesaikan tugas. Belajar dalam keadaan panik membuat seseorang lebih fokus menyelesaikan pekerjaan dibanding memahami materi secara mendalam. Dalam jangka panjang, pola ini bisa membuat proses belajar menjadi tidak sehat.
Baca Juga: SD dan SMP Negeri Kota Batu Defisit 65 Guru
Belajar Produktif Tanpa Harus Panik
Meski rasa panik kadang membuat seseorang lebih cepat bergerak, produktivitas yang sehat sebenarnya datang dari kebiasaan yang konsisten, bukan tekanan mendadak. Siswa dapat mulai mengurangi panic productivity dengan membagi tugas menjadi bagian kecil, membuat jadwal yang realistis, dan belajar memulai pekerjaan lebih awal.
Penting untuk memahami bahwa istirahat bukan tanda malas. Tubuh dan pikiran tetap membutuhkan waktu jeda agar dapat bekerja dengan baik. Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak siswa sebenarnya tidak malas, melainkan kesulitan mengelola tekanan dan kecemasan terhadap produktivitas.
Editor : Aditya Novrian