Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Fenomena “Doom Thinking” pada Siswa, Terbiasa Memikirkan Kemungkinan Terburuk

Choirun Nisa • Rabu, 27 Mei 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang berpikir keras (Sumber: KabarPrima)
Ilustrasi seseorang yang sedang berpikir keras (Sumber: KabarPrima)

BATU, RADAR BATU – Pernah melihat siswa yang langsung membayangkan hal buruk sebelum sesuatu benar-benar terjadi? Misalnya merasa pasti gagal sebelum ujian dimulai, takut dimarahi guru sebelum presentasi, atau menganggap masa depannya akan buruk hanya karena satu kesalahan kecil. Fenomena ini kini sering disebut sebagai doom thinking, yaitu kebiasaan memikirkan kemungkinan terburuk secara berlebihan.

Siswa Terbiasa Membayangkan Skenario Buruk

Dilansir dari laman KlikDokter, perilaku yang berkaitan dengan rasa pesimis dan kecemasan terhadap masa depan sering muncul akibat tekanan emosional dan ketidakpastian. Dalam kondisi tertentu, seseorang menjadi terbiasa memikirkan kemungkinan buruk sebagai bentuk “persiapan” menghadapi hal yang belum tentu terjadi.

Pada pelajar, kondisi ini sering terlihat ketika siswa langsung merasa takut gagal, takut dipermalukan, atau merasa hidupnya akan hancur hanya karena masalah kecil. Mereka menjadi lebih sensitif terhadap kesalahan dan terus memikirkan hal-hal negatif yang belum tentu benar.

Baca Juga: “Random Sadness” pada Siswa, Ini Upaya untuk Menghentikannya

Sebagian siswa bahkan sulit menikmati proses belajar karena pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Mulai dari takut nilai jelek, takut tidak diterima lingkungan, hingga khawatir masa depannya gagal dibanding teman-temannya. Tidak sedikit pelajar yang akhirnya menjadi mudah stres karena merasa harus selalu siap menghadapi hal buruk yang mungkin terjadi.

Media Sosial Memperkuat Pikiran Negatif

Laman IPB University menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus, seperti doomscrolling, dapat meningkatkan rasa cemas dan kelelahan mental. Doomscrolling adalah kebiasaan membaca berita atau konten negatif tanpa henti di media sosial.

Psikolog IPB University, Nur Islamiah, M.Psi., PhD, menjelaskan bahwa paparan informasi negatif berlebihan dapat membuat seseorang memiliki pandangan yang lebih negatif terhadap diri sendiri maupun kehidupan. Kondisi ini dapat membuat pikiran semakin dipenuhi rasa takut dan pesimisme. Mereka menjadi lebih mudah membayangkan kegagalan dibanding kemungkinan baik yang sebenarnya juga bisa terjadi.

Selain itu, kebiasaan membuka media sosial terus-menerus juga dapat menurunkan fokus dan membuat siswa lebih mudah terdistraksi. Akibatnya, pikiran menjadi semakin penuh dan sulit merasa tenang. Fenomena ini juga berkaitan dengan kelelahan mental atau brain rot, yaitu kondisi ketika otak terlalu banyak menerima informasi tanpa sempat memprosesnya secara sehat.

Baca Juga: Takut Dinilai Orang Lain, Banyak Siswa Tidak Bebas Menjadi Diri Sendiri

Doom Thinking Bisa Membuat Siswa Mudah Cemas

Kebiasaan memikirkan kemungkinan terburuk secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental pelajar. Siswa menjadi lebih mudah panik, sulit percaya diri, dan sering merasa tidak aman terhadap masa depan. Dalam beberapa kasus, siswa juga menjadi sulit mengambil keputusan karena takut salah. Mereka terus memikirkan berbagai risiko hingga akhirnya merasa kewalahan sendiri.

Karena itu, penting bagi pelajar untuk mulai mengenali pola pikir negatif yang muncul dalam dirinya. Tidak semua hal buruk yang dipikirkan akan benar-benar terjadi. Beberapa cara yang dapat membantu mengurangi doom thinking antara lain membatasi konsumsi konten negatif di media sosial, melatih mindfulness, berbicara dengan orang terpercaya, dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan saat ini.

Editor : Aditya Novrian
#doom #thinking #terburuk #berpikir #siswa