Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Fenomena ‘Healing’ pada Pelajar, Cara Baru Mengurangi Tekanan Sekolah

Choirun Nisa • Sabtu, 23 Mei 2026 | 20:06 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang healing di tepi pantai (Sumber: Fakultas Psikologi UNESA)
Ilustrasi seseorang yang sedang healing di tepi pantai (Sumber: Fakultas Psikologi UNESA)

BATU, RADAR BATU – Istilah healing kini semakin populer di kalangan pelajar dan generasi muda. Tidak hanya sekadar liburan atau jalan-jalan, healing mulai dipahami sebagai cara untuk mengurangi stres, kelelahan mental, hingga tekanan akademik yang dirasakan siswa sehari-hari.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran pelajar terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah aktivitas sekolah yang padat.

Healing Menjadi Cara Pelajar Mengurangi Tekanan
Dilansir dari laman Media Mahasiswa Indonesia, budaya healing berkembang pesat di kalangan Gen Z karena tingginya tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga paparan media sosial yang terus-menerus.

Baca Juga: Social Butterfly pada Siswa, Ini Ciri-Ciri dan Dampaknya dalam Kehidupan Sekolah

Banyak pelajar merasa lelah secara emosional akibat tugas sekolah, persiapan ujian, hingga tekanan untuk selalu produktif. Kondisi tersebut membuat siswa mencari cara untuk menenangkan diri dan mengembalikan energi mental, salah satunya melalui aktivitas healing.

Healing sendiri tidak selalu berarti liburan mahal. Banyak siswa melakukannya lewat aktivitas sederhana seperti me time, journaling, mendengarkan musik, olahraga ringan, nongkrong di tempat nyaman, hingga sekadar beristirahat dari aktivitas sekolah. Selain itu, aktivitas kreatif seperti menggambar, membaca, meditasi, atau menikmati waktu sendiri juga mulai dianggap sebagai bentuk healing yang membantu menjaga keseimbangan emosi.

Tekanan Sekolah dan Media Sosial Jadi Pemicu
Media Mahasiswa Indonesia menjelaskan bahwa tekanan akademik dan media sosial menjadi dua faktor utama yang membuat fenomena healing semakin populer di kalangan pelajar. Paparan media sosial yang menampilkan kehidupan serba sempurna sering membuat siswa merasa tertinggal, kurang percaya diri, hingga mengalami overthinking.

Di sisi lain, budaya produktivitas yang tinggi juga membuat banyak siswa sulit memiliki waktu istirahat yang cukup. Akibatnya, sebagian pelajar mengalami stres, burnout, hingga kehilangan motivasi belajar. Karena itu, healing mulai dianggap sebagai cara untuk recharge energi agar siswa dapat kembali fokus menjalani aktivitas sekolah.

Baca Juga: Fenomena “Overstimulated” akibat Gadget Mulai Memengaruhi Pelajar

Sekolah Mulai Menyoroti Pentingnya Kesehatan Mental
Dilansir dari laman Aksiku.id, isu kesehatan mental kini mulai menjadi perhatian dalam dunia pendidikan. Tekanan akademik, kecanduan gadget, hingga perundungan digital dinilai menjadi tantangan baru yang dihadapi siswa di era digital.

Melalui berbagai program sekolah sehat mental, banyak sekolah mulai mendorong pendekatan pendidikan yang tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga kesejahteraan emosional siswa. Beberapa sekolah bahkan mulai menghadirkan ruang curhat, edukasi kesehatan mental, hingga aktivitas sosial-emosional untuk membantu siswa menghadapi tekanan belajar.

Editor : Aditya Novrian
#pelajar #Tekanan #sekolah #libur #healing