BATU, RADAR BATU - Penetrasi teknologi yang kian masif pada anak usia dini memaksa para pendidik memutar otak untuk mengubah gawai dari sekadar candu pasif menjadi alat belajar interaktif. Merespons ancaman sekaligus peluang dari fenomena ini, ratusan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kota Batu digembleng strategi digitalisasi pembelajaran dalam lokakarya intensif di Hotel Batusuki kemarin (20/5).
Gawai kini layaknya pisau bermata dua. Kehadirannya mempermudah akses informasi, tapi juga berisiko merusak tumbuh kembang anak jika dibiarkan tanpa pendampingan ketat. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Alfi Nurhidayat menyebut gawai sebagai tantangan paling nyata bagi pendidik dan orang tua. Anak-anak generasi masa kini begitu fasih mengoperasikan ponsel pintar, bahkan jauh sebelum mereka pandai mengeja huruf.
BACA JUGA: Menikmati Solo Trip di Batu, Kota Sejuk yang Cocok untuk Healing
Fase usia dini, lanjut Alfi, merupakan masa yang sangat krusial. Kondisi otak anak di tahap ini masih bersih dan sangat reseptif. Segala bentuk stimulus, pola asuh, maupun tontonan akan langsung diserap dan membekas permanen dalam memori mereka. “Jika kita salah mendidik hari ini, imbasnya akan merusak masa depan mereka,” tegas mantan Kepala Dinas PUPR Kota Batu tersebut.
Alfi mengaitkan krisis penetrasi teknologi ini dengan visi nasional menyongsong Generasi Emas 2045. Ia mengingatkan bahwa karakter generasi unggul tidak bisa dicetak secara instan. Fondasi utamanya mutlak harus dibangun dari lingkungan paling dasar, yakni keluarga dan institusi PAUD.
BACA JUGA: Ingin Mencicipi Kuliner Jepang? Pasar Apung Batu Punya Spot Makan yang Wajib Dicoba
Menghadapi kompleksitas masalah tersebut, pemerintah daerah tidak bergerak sendiri. Dinas Pendidikan menggandeng sejumlah praktisi untuk memperkaya wawasan guru, salah satunya menghadirkan Manajer Jawa Pos Radar Batu Kholid Amrullah sebagai narasumber.
Melalui sinergi ini, para pendidik dituntut memiliki persepsi dan keterampilan yang seragam. Mereka ditargetkan mampu memutarbalikkan fungsi gawai, dari sekadar sarana bermain menjadi platform edukasi digital yang kreatif, interaktif, sekaligus aman demi membentengi karakter anak sejak dini. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan