BATU, RADAR BATU – Fenomena self diagnose atau mendiagnosis kondisi diri sendiri semakin sering ditemukan di kalangan pelajar dan remaja. Banyak siswa mulai menyimpulkan dirinya mengalami gangguan mental hanya berdasarkan informasi dari media sosial, internet, hingga hasil percakapan dengan kecerdasan buatan (AI).
Kondisi ini dinilai perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan kesalahan pemahaman terhadap kesehatan mental dan berdampak pada kehidupan sehari-hari siswa.
Pelajar Rentan Melakukan Self Diagnose
Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan RI, tren penggunaan AI untuk menilai kondisi kesehatan mental semakin meningkat di kalangan generasi muda, terutama Gen Z dan Gen Alpha.
Psikiater FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, menyebut banyak remaja menggunakan chatbot untuk menanyakan kondisi psikologis mereka, mulai dari kepribadian hingga dugaan depresi. Tidak sedikit pula yang menjadikan AI sebagai tempat bercerita ketika merasa kesepian atau tidak memiliki tempat curhat.
Baca Juga: Fenomena “Brain Rot” akibat Konten Cepat Mulai Dikhawatirkan Memengaruhi Konsentrasi Siswa
Fenomena ini terjadi karena siswa merasa lebih mudah mendapatkan jawaban secara instan melalui internet maupun media sosial. Selain itu, minimnya komunikasi dengan lingkungan sekitar membuat sebagian pelajar lebih nyaman mencari jawaban sendiri dibanding berkonsultasi dengan orang tua, guru, atau tenaga profesional.
Dilansir dari laman FKM Universitas Airlangga, self diagnose juga dipengaruhi banyaknya informasi kesehatan mental yang beredar di media sosial tanpa dasar ilmiah yang jelas. Konten tentang gangguan mental yang sedang tren membuat sebagian siswa merasa memiliki gejala serupa hanya karena mengalami kondisi emosional tertentu.
Self Diagnose Bisa Memperburuk Kondisi Mental
Self diagnose dinilai berbahaya karena dapat menyebabkan misdiagnosis atau kesalahan dalam memahami kondisi kesehatan diri sendiri. Gejala gangguan mental pada setiap individu bisa berbeda sehingga tidak dapat disamakan hanya berdasarkan pengalaman orang lain di internet.
Jika siswa langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan tertentu tanpa pemeriksaan profesional, kondisi ini justru dapat memicu kecemasan berlebihan. Tidak sedikit pelajar yang akhirnya merasa takut, stres, bahkan melakukan penanganan sendiri tanpa arahan tenaga ahli.
Selain itu, kebiasaan terlalu bergantung pada AI atau media sosial juga dapat membuat siswa semakin menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka merasa lebih dipahami oleh teknologi dibanding orang di sekitarnya.
Baca Juga: Fenomena Multitasking di Kalangan Pelajar, Efektif atau Justru Mengganggu Konsentrasi?
Fenomena romantisasi kesehatan mental di media sosial juga dinilai memperparah kondisi ini. Sebagian siswa mulai menganggap gangguan mental sebagai identitas diri tanpa benar-benar memahami kondisi yang dialami.
Pendampingan dan Literasi Digital Dinilai Penting
Untuk mengurangi fenomena self diagnose, siswa dianjurkan lebih bijak dalam menerima informasi kesehatan mental di internet. Informasi dari media sosial maupun AI sebaiknya tidak dijadikan dasar utama untuk menentukan kondisi kesehatan diri.
Siswa juga dianjurkan mulai membangun komunikasi yang sehat dengan keluarga, guru, atau teman dekat agar tidak merasa sendirian ketika menghadapi masalah emosional.
Selain itu, literasi digital dinilai penting agar pelajar mampu membedakan informasi yang valid dengan konten yang menyesatkan. Mengakses sumber terpercaya dan memahami bahwa diagnosis hanya dapat dilakukan tenaga profesional menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental.
Jika siswa merasa mengalami gangguan emosional yang mengganggu aktivitas sehari-hari, mereka disarankan berkonsultasi langsung dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Editor : Aditya Novrian