BATU, RADAR BATU – Kebiasaan menonton video pendek dan konten cepat di media sosial mulai memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pendidik maupun psikolog. Fenomena yang dikenal dengan istilah brain rot dinilai dapat memengaruhi konsentrasi, daya pikir, hingga kesehatan mental siswa.
Istilah brain rot sendiri belakangan ramai dibahas di media sosial dan disebut sebagai salah satu fenomena digital yang banyak dialami generasi muda.
Konten Cepat Dinilai Menurunkan Fokus Siswa
Dilansir dari laman RS Marzoeki Mahdi Bogor, brain rot merupakan kondisi menurunnya fungsi kognitif akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang dangkal dan berulang.
Konten seperti video pendek, prank, meme absurd, hingga hiburan instan dinilai membuat otak terbiasa menerima stimulus cepat tanpa proses berpikir mendalam. Akibatnya, kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan analisis siswa dapat menurun.
Fenomena ini semakin sering terjadi karena media sosial kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari remaja. Banyak siswa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling video pendek sejak pagi hingga malam hari.
Baca Juga: Penyebab Insecure pada Siswa, Ini Cara Mengatasinya
Paparan konten yang terus-menerus juga membuat sebagian siswa menjadi lebih sulit fokus ketika belajar, membaca buku, atau mendengarkan penjelasan guru dalam waktu lama.
Selain itu, kebiasaan berpindah dari satu video ke video lain dinilai membuat otak terbiasa dengan hiburan instan sehingga sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Generasi Muda Dinilai Paling Rentan Mengalami Brain Rot
Dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), fenomena brain rot banyak menyerang anak-anak hingga remaja karena tingginya penggunaan media sosial di usia muda.
Pakar psikologi anak dan keluarga UMS, Prof. Dr. Sri Lestari, menyebut brain rot memang belum termasuk gangguan psikologis resmi, tetapi gejalanya nyata dan dapat memengaruhi kesehatan mental.
Menurutnya, konsumsi konten digital yang dangkal secara terus-menerus membuat otak menjadi malas berpikir karena tidak terbiasa melakukan analisis mendalam.
Akibatnya, siswa menjadi lebih mudah terdistraksi, sulit menyaring informasi, hingga cenderung impulsif dalam mengambil keputusan.
Selain berdampak pada kemampuan berpikir, penggunaan media sosial berlebihan juga dinilai dapat memicu stres, kecemasan, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Sebagian remaja bahkan menjadi lebih bergantung pada validasi sosial seperti jumlah likes, komentar, atau jumlah penonton di media sosial.
Baca Juga: Daftar Sekolah SMA atau Sederajat Favorit di Malang 2026, Ini yang Paling Banyak Diminati
Penggunaan Gadget Perlu Dibatasi dengan Bijak
Untuk mengurangi risiko brain rot, siswa dianjurkan mulai membatasi penggunaan media sosial dan memilih konten yang lebih berkualitas.
Membiasakan membaca buku, berdiskusi, menulis, atau melakukan aktivitas produktif di luar layar dinilai dapat membantu melatih kembali kemampuan fokus dan berpikir kritis.
Selain itu, interaksi sosial secara langsung bersama keluarga maupun teman juga penting untuk menjaga kesehatan mental remaja. Pakar juga menyarankan penggunaan media sosial tidak berlebihan dan dilakukan dengan jadwal yang lebih teratur agar siswa tidak terlalu bergantung pada hiburan instan.
Peran orang tua dan sekolah dinilai sangat penting dalam mendampingi siswa menggunakan gadget secara sehat. Pendampingan tersebut diperlukan agar teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, bukan justru mengganggu perkembangan konsentrasi dan kemampuan berpikir siswa.
Editor : Aditya Novrian