Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Fenomena Quarter Life Crisis Mulai Dirasakan Siswa SMA, Terutama Saat Menentukan Jurusan Kuliah

Choirun Nisa • Jumat, 8 Mei 2026 | 23:00 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan dan kebingungan ditengah quarter life crisis (Sumber: Halodoc)
Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan dan kebingungan ditengah quarter life crisis (Sumber: Halodoc)

BATU, RADAR BATU – Fenomena quarter life crisis yang selama ini identik dengan mahasiswa dan usia dewasa muda mulai dirasakan pelajar tingkat SMA. Kondisi ini muncul terutama saat siswa mulai memikirkan pilihan jurusan kuliah, karier masa depan, hingga kekhawatiran tidak mampu memenuhi ekspektasi lingkungan sekitar.

Perasaan bingung menentukan arah hidup, takut salah jurusan, hingga cemas melihat pencapaian teman sebaya menjadi kondisi yang semakin sering ditemui menjelang masa kelulusan sekolah.

Tekanan Masa Depan dan Perbandingan Sosial
Dilansir dari laman Ma’soem University, quarter life crisis merupakan fase ketika seseorang mulai merasa ragu terhadap pilihan hidup, masa depan, maupun kemampuan diri. Kondisi ini umumnya muncul pada usia awal 20-an, tetapi gejalanya kini mulai dirasakan siswa SMA saat menentukan pilihan pendidikan lanjutan.

Tekanan untuk segera sukses menjadi salah satu faktor yang memicu kecemasan pada pelajar. Media sosial dinilai membuat siswa lebih mudah membandingkan diri dengan teman sebaya yang dianggap sudah memiliki tujuan hidup lebih jelas atau prestasi tertentu.

Selain itu, banyak siswa mulai mempertanyakan apakah jurusan yang akan dipilih sesuai dengan minat dan peluang kerja di masa depan. Kurangnya pemahaman terhadap potensi diri juga membuat sebagian pelajar merasa bingung menentukan arah pendidikan.

Baca Juga: Media Sosial Dinilai Memengaruhi Kepercayaan Diri Pelajar, Ini Cara Menggunakannya Secara Sehat

Laman Psikologi Telkom University menjelaskan quarter life crisis juga dapat dipicu oleh kekhawatiran menghadapi dunia kerja dan tekanan sosial untuk memenuhi standar keberhasilan tertentu di usia muda. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini berkaitan dengan proses pencarian identitas diri pada masa remaja menuju dewasa. Siswa mulai memikirkan peran sosial, tujuan hidup, hingga masa depan yang dianggap harus segera dipastikan.

Rasa Cemas hingga Kehilangan Motivasi Belajar
Quarter life crisis yang tidak dikelola dengan baik dinilai dapat berdampak pada kondisi mental pelajar. Siswa dapat mengalami stres, kecemasan berlebihan, menurunnya rasa percaya diri, hingga kehilangan motivasi belajar.

Sebagian pelajar juga merasa takut salah mengambil jurusan kuliah karena khawatir pilihan tersebut akan memengaruhi karier mereka di masa depan. Kondisi ini membuat siswa mudah merasa tertekan ketika melihat pencapaian teman lain.

Selain itu, ekspektasi dari lingkungan sekitar, baik keluarga maupun sekolah, turut memengaruhi tekanan psikologis siswa. Tidak sedikit pelajar yang merasa harus segera memiliki rencana hidup yang jelas meski masih berada pada tahap pencarian minat dan kemampuan diri.

Baca Juga: Siswa Sulit Mengatur Emosi Saat Belajar, Ini Peran Sekolah dan Lingkungan

Sekolah Dinilai Perlu Perkuat Pendampingan Karier
Untuk membantu siswa menghadapi fase tersebut, pendampingan karier dan pengenalan potensi diri dinilai penting dilakukan sejak SMA. Sekolah dapat membantu siswa memahami minat, bakat, dan kemampuan sebelum menentukan pilihan jurusan kuliah.Kegiatan seperti seminar karier, konseling pendidikan, hingga diskusi bersama guru pembimbing dinilai dapat membantu siswa memperoleh gambaran mengenai dunia perkuliahan dan pekerjaan.

Siswa juga didorong untuk tidak terlalu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Fokus pada proses pengembangan kemampuan dan mengenali tujuan pribadi dinilai lebih penting dibanding mengikuti standar keberhasilan orang lain. Pendekatan psikologi juga menekankan pentingnya menerima ketidakpastian sebagai bagian dari proses perkembangan diri.

Editor : Aditya Novrian
#jurusan #siswa #sma #kuliah