BATU, RADAR BATU - Tingginya hasrat mengenyam pendidikan tinggi warga Kota Batu tak selaras dengan daya dukung ekonomi keluarga. Realitas ini tecermin dari membeludaknya pendaftar Program Beasiswa Seribu Sarjana. Hingga awal Mei ini, tercatat lebih dari 700 pendaftar telah memperebutkan kuota bantuan pendidikan tersebut.
Angka pelamar ini meleset jauh dari proyeksi awal. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan pada April lalu, jumlah pendaftar di sistem masih tertahan di kisaran 500 orang. Merespons gelombang antusiasme ini, keran pendaftaran batal ditutup.
Batas akhir pengunggahan berkas yang sedianya berakhir pada 30 April, kini diperpanjang hingga pengujung Agustus. Kebijakan ini diambil untuk memberi napas bagi mahasiswa yang masih berjibaku melengkapi kerumitan syarat administratif.
BACA JUGA: Rayakan 30 Tahun Berkarya, Sheila On 7 Rilis Single Baru Bertajuk Sederhana
Tahun ini, pemerintah hanya mematok kuota untuk 400 penerima manfaat. Meski terbatas, angka ini naik dibandingkan realisasi tahun lalu yang hanya menjaring 273 mahasiswa. Guna menopang beban pembiayaan ratusan mahasiswa, dana Rp4,1 miliar telah disiapkan.
Anggaran ini merupakan hasil skema kolaborasi antara APBD Kota Batu dan dana tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) dari Bank Jatim. “Kandidat yang lolos seleksi berhak atas suntikan dana Uang Kuliah Tunggal (UKT),” tegas Alfi.
BACA JUGA: Sempat Kabur, Oknum Kiai Pencabul Santriwati di Ponpes Pati Berhasil Ditangkap Polisi
Khusus bagi mahasiswa dari kelompok rentan atau keluarga kurang mampu, pemerintah akan menyuntikkan insentif tambahan berupa uang saku bulanan guna menunjang operasional hidup di rantau.
Namun, kompetisi memperebutkan dana miliaran rupiah ini dipastikan berlangsung ketat dan tanpa kompromi. Dinas Pendidikan bakal memberlakukan proses verifikasi dan validasi faktual secara berlapis.
Tim khusus akan diterjunkan langsung ke lapangan guna membedah profil ekonomi dan akademik pelamar. Langkah sapu bersih ini diambil untuk memutus risiko bantuan salah sasaran. Sebab, investasi SDM ini harus benar-benar jatuh ke tangan yang berhak. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan