BATU, RADAR BATU - Sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SD dan SMP di Kota Batu tahun ajaran 2026/2027 diperketat dengan skema zonasi berbasis Rukun Warga (RW). Skema itu membuat persaingan masuk sekolah negeri semakin ketat. Kebijakan ini diterapkan pada jenjang SMP.
Sementara, di tingkat SD tekanan justru datang dari meningkatnya minat ke sekolah swasta dan berbasis agama. Wakil Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Kota Batu Budi Prasetyo menjelaskan jalur domisili tidak lagi berbasis radius semata, melainkan dibagi hingga level RW.
“Kuota domisili tetap minimal 40 persen, tetapi distribusinya dihitung per RW,” ujarnya. Ia menyebut, alokasi per wilayah rata-rata sekitar 20,2 persen dari total lulusan di tiap RW. Perhitungan ini disesuaikan dengan jumlah anak di masing-masing wilayah.
Baca Juga: Rincian Lengkap SPMB 2026 Kota Batu: Jalur Domisili 40%, Prestasi 35%, Ini Skema Penilaiannya
“Kalau di satu RW ada delapan lulusan, kemungkinan hanya dua yang diterima lewat jalur domisili,” katanya. Siswa yang tidak tertampung harus bersaing melalui jalur lain, seperti afirmasi, prestasi, dan mutasi.
Menurut Budi, skema ini dirancang untuk menciptakan pemerataan. Model tersebut berbeda dengan sistem zonasi umum yang cenderung menguntungkan siswa yang tinggal dekat sekolah. Dengan pembagian kuota per RW, siswa dari wilayah jauh tetap memiliki peluang melalui alokasi yang telah ditentukan sejak awal.
Teknis pelaksanaan dilakukan melalui koordinasi antarkepala sekolah. Setiap sekolah bertanggung jawab memverifikasi data lulusan di wilayahnya. Langkah ini diharapkan menekan potensi konflik saat proses pendaftaran berlangsung.
Baca Juga: Pemuda Dibekuk Polisi setelah Curi 19 Keping Emas Senilai Rp 54 Juta di Sidodadi Ngantang
Pemetaan wilayah juga dilakukan secara rinci. Dalam satu kelurahan, pembagian RW bisa mengarah ke sekolah yang berbeda. “Di Ngaglik, RW 1 sampai 9 masuk zona SMP Negeri 2 Batu, sedangkan RW 10 sampai 15 ke SMP Negeri 1 Batu,” jelasnya.
Sementara itu, tantangan di jenjang SD berbeda. Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Batu Mustain menyebut fenomena favoritisme masih kuat. “Ada sekolah yang kebanjiran pendaftar, sementara yang lain kekurangan siswa,” ujarnya.
Kondisi itu terjadi meski sekolah berada dalam satu kawasan. Contohnya di Kelurahan Sisir, beberapa SD negeri harus bersaing ketat untuk menarik siswa. Dampaknya, muncul ketimpangan jumlah murid hingga tekanan pada kapasitas ruang kelas.
Baca Juga: Arus Lalu Lintas Kota Batu Sore 22 April 2026 Ramai Lancar di Sejumlah Ruas Jalan
“Tahun ini masih aman, tapi ke depan ruang kelas mulai terbatas,” katanya. Selain itu, sekolah negeri juga menghadapi persaingan dari sekolah berbasis agama dan boarding school yang kian diminati.
Mustain menilai sekolah negeri harus lebih adaptif. Salah satunya dengan memperkuat program keagamaan tanpa membebani biaya. “Perlu kolaborasi dengan masyarakat dan tokoh agama untuk membangun kepercayaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan SDN Bulukerto 2 yang berhasil meningkatkan minat siswa setelah aktif berinteraksi dengan warga. Menurut dia, kehadiran sekolah di tengah masyarakat menjadi kunci untuk bersaing di tengah perubahan preferensi orang tua. Dengan skema baru ini, seleksi masuk sekolah negeri tidak hanya lebih ketat, tetapi juga menuntut adaptasi dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Editor : Fajar Andre Setiawan