MALANG KOTA - Kekhawatiran akan penurunan kualitas pembelajaran kembali mencuat. Pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi mahasiswa semester lima ke atas mulai pekan ini di Kota Malang menuai kritik. Mahasiswa menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu learning loss lagi.
Peralihan mendadak dari kuliah tatap muka ke sistem daring dinilai mengganggu pemahaman materi. Terutama pada mata kuliah yang menuntut analisis mendalam.
Nauva Arla, mahasiswa semester 6 Universitas Negeri Malang (UM) mengaku efektivitas pembelajaran menurun saat kuliah dilakukan dari rumah.
Interaksi langsung dengan dosen dinilai sulit tergantikan oleh layar digital. Dia menilai ada perbedaan signifikan. Menurutnya, penjelasan langsung di kelas lebih gamblang dan memudahkan pemahaman.
Selain itu, pembelajaran tatap muka, kata dia, menjadi kunci dalam memahami teori kompleks di jenjang akhir. Ia menilai kebijakan PJJ berisiko mengorbankan kualitas akademik, meski bertujuan efisiensi energi.
Pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi rujukan kekhawatiran tersebut. Saat itu, banyak mahasiswa mengalami zoom fatigue akibat durasi belajar daring yang panjang. Kondisi tersebut berdampak pada fokus dan kesehatan mental.
“Interaksi terasa hambar. Fokus mudah hilang karena banyak distraksi di rumah,” katanya. Selain itu, persoalan teknis juga masih menjadi hambatan. Koneksi internet yang tidak stabil serta biaya kuota yang tinggi dinilai memberatkan, terutama bagi mahasiswa di daerah.
Keluhan serupa disampaikan Revaliska Afifah Widodo, mahasiswa semester 6 Universitas Brawijaya (UB). Ia menilai PJJ tidak efektif untuk seluruh jenis mata kuliah. “Terutama yang membutuhkan praktikum dan diskusi intensif. Itu sulit digantikan secara daring,” ujarnya.
Ia menambahkan lemahnya pemahaman materi berpotensi berdampak pada kualitas lulusan jika berlangsung dalam jangka panjang. Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik UB Prof Imam Santoso mengakui pembelajaran luring masih lebih efektif.
Namun, penerapan kebijakan tidak dilakukan secara kaku. Ada pengecualian untuk praktikum di laboratorium, studio, klinik, dan bengkel kerja. Itu tetap tatap muka. Menurutnya, karakteristik tiap program studi menjadi pertimbangan utama.
Mahasiswa tingkat akhir yang lebih banyak menjalani kegiatan mandiri dan magang dinilai lebih fleksibel mengikuti PJJ. “Meski demikian, kampus akan terus mengevaluasi kebijakan tersebut agar tidak mengorbankan kualitas pembelajaran,” tandasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan