BUMIAJI, RADAR BATU – Universitas Brawijaya (UB) menegaskan hasil riset panjang di bidang tanaman atsiri yang telah dilakukan lebih dari satu dekade. Penelitian terhadap lebih dari 40 spesies tanaman lokal tersebut kini mulai menunjukkan hasil konkret dalam bentuk inovasi produk perawatan anak.
Kepala Institute Atsiri UB Warsito menjelaskan bahwa penelitian atsiri yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada aroma, tetapi juga pada kandungan senyawa aktifnya. Berdasarkan kajian ilmiah, senyawa tersebut memiliki potensi sebagai antimikroba, antiinflamasi, hingga membantu menjaga kelembapan kulit.
“Ini berbasis data saintifik dari penelitian panjang, sehingga manfaatnya bisa diukur,” ujarnya.
Baca Juga: Kejar Pertumbuhan 5 Persen, Wali Kota Batu Minta Pertanian, Pariwisata, dan Perdagangan Disinergikan
Menurutnya, riset atsiri UB selama ini dilakukan secara bertahap, mulai dari eksplorasi tanaman, ekstraksi senyawa aktif, hingga pengujian manfaatnya. Pendekatan tersebut menjadi dasar dalam pengembangan berbagai inovasi turunan.
Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah pemanfaatan bahan alami tambahan seperti rambut jagung. Peneliti UB, Rosalina Ariesta Laeliocattleya, menyebut kandungan ferulic acid dan flavonoid dalam rambut jagung memiliki potensi sebagai pelindung terhadap paparan sinar ultraviolet.
Baca Juga: Gandeng UB, Baloga Punya Omah Atsiri yang Selalu Wangi
Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya optimalisasi sumber daya hayati lokal, termasuk pemanfaatan limbah pertanian yang selama ini belum banyak digunakan.
Selain aspek riset, UB juga mulai mendorong hilirisasi hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan lebih luas. Kerja sama dengan berbagai pihak dilakukan untuk memperkuat ekosistem inovasi, mulai dari tahap penelitian hingga distribusi.
Wakil Rektor Bidang V UB, Unti Ludigdo, menyebut kolaborasi menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium.
“Harapannya, inovasi dari kampus bisa sampai ke masyarakat dan memberi manfaat nyata,” katanya.
Dengan riset yang telah berjalan lebih dari 10 tahun, UB menilai pengembangan tanaman atsiri memiliki potensi besar, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Editor : Aditya Novrian