Pondok Pesantren Dar Ummahatil Mukminin di Jalan Metro Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu sudah menjalankan program makan bersama sejak 2011 silam. Makanan yang disajikan di sana dipastikan bebas MSG. Santri mendapatkan jatah makan sebanyak tiga kali sehari.
PONDOK Pesantren (Ponpes) Dar Ummahatil Mukminin konsisten menyajikan makan sehat dan bergizi bagi para santri sejak 2011. Ada aturan pakem yang tidak boleh dilanggar dalam pemrosesan makanan di sana. Yakni tidak boleh menggunakan penyedap berbahan kimia alias Monosodium Glutamat (MSG).
Makanan yang diolah untuk 170 santri di sana murni menggunakan bumbu alami. Seperti bawang putih, bawang merah, dan rempah khas Indonesia lain. Wajar bila ponpes tersebut tak pernah punya catatan merah dalam pelaksanaan makan bersama. Makanan yang disajikan tak hanya enak melainkan juga aman konsumsi.
Kendati jumlah porsi yang harus disiapkan cukup banyak, Ponpes Dar Ummahatil Mukminin hanya punya dua pekerja bagian dapur. Namun, mereka hanya bertugas memasak sayur dan lauk saja. Itu pun langsung untuk tiga kali makan. Yakni sarapan pada pukul 06.30, makan siang pada pukul 12.30, dan makan malam pada pukul 19.30.
Ada pembagian tugas yang cukup unik di sana. Untuk memasak nasi, santri akan dijadwal piket bergantian. Ada enam santri yang terjadwal piket memasak nasi setiap harinya. Setiap jam makan akan ada dua santri berbeda-berbeda yang bertugas. Hal itu bertujuan untuk melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab dalam diri santri.
Para santri mulai memasak nasi satu jam sebelum waktu makan. Untuk santri yang bertugas piket saat makan siang dan makan malam, mereka ada tugas tambahan. Yakni menghangatkan sayur dan lauk yang sudah dimasak sejak pagi. Skema tersebut terus berjalan lancar sampai hari ini.
Sementara, dua petugas dapur akan memulai aktivitas memasak sejak pukul 05.00. Sebelum itu mereka akan belanja sayur dan lauk di pasar pagi (Pasar Induk Among Tani Batu). Ya, sayur-mayur dan lauk-pauk harus fresh alias dibeli pada hari yang sama dengan pengolahannya. Sedangkan beras dan bumbu biasanya dibeli mingguan atau bulanan.
“Lauk pagi biasanya kering seperti nasi goreng atau pecel,” ujar Nabila Al- Hadad, Pengurus Ponpes Dar Ummahatil Mukminin. Sedangkan untuk siang dan malam akan disajikan menu basah alias berkuah seperti soto, rawon, atau bakso. Setelah menyajikan menu sarapan, dua petugas dapur langsung memasak sayur dan lauk untuk makan siang dan malam.
“Bahan baku makanan kami catat tiap malam hari sebelum memasak keesokan harinya,” imbuhnya. Nabila memastikan tak ada sayur dan lauk yang menginap. Sebab, santri diwajibkan menghabiskan makanan yang sudah di masak di hari itu juga. Meski begitu, makanan memang jarang tersisa.
Pasalnya, ada tradisi unik yang tetap lestari di ponpes itu. Yakni makan bersama dalam satu talam atau nampan. Setiap nampan makanan akan berisi porsi untuk delapan santri. Itulah mengapa makanan sangat jarang yang tersisa. Sebab, makan bersama dalam satu nampan dinilai memberikan kenikmatan lebih daripada harus makan sendiri-sendiri.(dia/dre)
Editor : A. Nugroho