BATU - Sebanyak 47 kaligrafi hasil karya 15 seniman nasional dipamerkan di gedung Graha Pancasila kemarin (22/10). Pameran itu tak hanya memajang lukisan dua dimensi saja tetapi juga karya kaligrafi tiga dimensi. Pameran itu digelar untuk memeringati Hari Santri Nasional.
Sebanyak 15 seniman itu berasal dari berbagai daerah. Di antaranya sastrawan beken yakni Kiai Zamzawi Imran dari Madura, Syaiful Adnan dari Yogyakarta, Ripsul dari Yogyakarta, Atho’illah dari Jombang, Bambang Priyadi dari Kota Malang, Badrie dari Pasuruan.
Selain itu, ada seniman lokal dari Kota Batu seperti Кoeboe Sarawan, Gusbandi Harioto, Watonisays, Sujono Djonet, A Rokhim, Imron Fathoni, H Van Zirenk, Yusfianto, dan Agus Sujito. Karya yang disajikan memuat keselarasan ayat Al Quran dengan kehidupan.
Panitia sekaligus salah satu seniman Badrie mengatakan karya kaligrafi saat ini banyak mengalami perkembangan. Baik dari segi khat maupun aliran. “Ada juga ragam karya tiga dimensi mulai dari patung hingga lampion kreasi,” ungkapnya.
Dari 47 karya yang dipamerkan ada lima karya tiga dimensi dan 42 karya dua dimensi. Masing-masing seniman setidaknya memamerkan dua sampai tiga karya. Di antara seniman-senima yang berkontribusi, ada yang sudah terkenal di kancah internasional.
Terpisah, Ketua Panitia Pameran Nasional Seni Rupa Kaligrafi Gus Imron Fathoni mengatakan beberapa karya sudah datang sepekan sebelum pameran berlangsung. “Yang dari Yogyakarta dan Jombang malah sudah datang sejak 13 Oktober lalu,” ungkapnya.
Pameran itu sekaligus menjadi event seni rupa kaligrafi tingkat nasional pertama yang digelar di Kota Batu. Selain untuk memeringati Hari Santri Nasional juga sekaligus dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-24 Kota Batu.
Kurator dalam pameran ini Prof Dr Drs Djuli Djatiprambudi MSn mengatakan pameran ini berhasil memperlihatkan rentetan semangat invensi estetik dalam seni rupa modern. Ada pertemuan arus modernitas dan spiritualitas Islam yang sudah muncul sejak awal 1970-an.
Saat itu kecenderungan unsur-unsur huruf Arab (seni kaligrafi) muncul sebagai elemen estetik yang menyatu dalam seni lukis abstrak. Guru besar Universitas Negeri Surabaya itu mengatakan karya yang tersaji di pameran ini menegaskan pertemuan dua arus itu.
Yakni praktik seni rupa modern meliputi gaya, teknik, dan media dengan spirit estetika Islam yang terpancar dari seni kaligrafi Islam. “Inilah seni rupa yang meneduhkan, merefleksikan, menauhidkan, dan modern,” pungkasnya.
Terpisah, Anggota Komisi B DPRD Kota Batu Sujono Djonet juga turut berkontribusi dalam pameran itu. Dia membuat dua lampion kaligrafi. Pria yang akrab disapa Djonet itu mengaku perlu waktu dua minggu untuk membuat karya tersebut. “Wali Kota menyambut baik event ini. Rencananya tahun depan akan diadakan lagi dengan skala yang lebih besar,” tandasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho