BATU - Beban pondok pesantren (ponpes) di Kota Batu dalam menyajikan makanan untuk para santri akan sedikit lebih ringan. Sebab, program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang juga akan menyasar santri ponpes. Bahkan Badan Gizi Nasional (BGN) sudah berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batu untuk realisasinya.
“Awal September lalu BGN bertandang ke sini (Kantor Kemenag Kota Batu) untuk berkoordinasi terkait MBG yang akan menyasar ponpes,” terang Candra Nur Halis, Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kemenag Kota Batu. Kendati begitu, hasilnya masih abu-abu.
Yang jelas data santri dari 46 ponpes sudah diserahkan ke BGN. Data itu akan diverifikasi lagi. Tujuannya untuk mencegah penerimaan ganda. Tidak semua ponpes akan menerima MBG. Sebab, beberapa ponpes ada yang memiliki lembaga sekolah. Sehingga para santrinya sudah menerima MBG melalui sekolah tersebut.
Ada pula ponpes yang tidak memiliki lembaga sekolah tetapi para santrinya diizinkan menempuh pendidikan formal di luar. Bisa jadi santri tersebut pun sudah menerima MBG. Berbeda, dengan ponpes salaf yang santrinya hanya belajar ilmu agama saja alias tidak menempuh pendidikan formal.
“Ini perlu verifikasi secara manual mengingat belum ada data induk yang bisa mendeteksi anak-anak apakah sudah menerima MBG atau belum,” ujarnya. Candra mengaku saat ini sedang proses verifikasi data santri yang sudah dan belum menerima MBG. Proses verifikasi dibantu kelompok kerja (pokja) ponpes.
Secara umum semua anak usia sekolah mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA/SMK/MA/Sederajat berhak mendapatkan MBG satu kali dalam sehari. Sehingga, verifikasi data yang dilakukan bertujuan untuk mendeteksi santri yang sudah menerima MBG di sekolahnya. Dengan begitu, dia tidak akan menerima lagi di ponpes.
Selain untuk pemerataan program, penyaluran ganda berpotensi buang-buang anggaran. Sebab, waktu penyaluran MBG realtif sama yakni antara pukul 09.00-12.00. Sehingga, santri yang menempuh pendidikan formal bisa dipastikan sedang berada di sekolah. Sementara, sejauh ini sekolah telah menjadi sasaran utama dan prioritas dari program tersebut.
Jika di waktu yang sama juga terjadi distribusi ke ponpes, maka makanan otomatis tidak akan bisa langsung disantap. Alias harus menunggu santri pulang dari sekolah. Hal itu dikhawatirkan akan memicu masalah yang lebih besar. Mengingat marak keluhan terkait kondisi makanan yang sudah tidak fresh saat diterima.
Hal itu disinyalir karena jarak waktu memasak dengan penyajiannya terlalu lama. Candra mengatakan belum ada informasi lanjutan terkait kuota MBG untuk ponpes di Kota Batu. Namun informasi terkahir yang ia dapatkan yakni selagi santri belum menerima MBG dari sekolah, cepat atau lambat mereka akan menerimanya melalui ponpes.
Sebagai informasi, ponpes di kota atau kabupaten lain ada yang bahkan dimanfaatkan sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Seperti SPPG Ponpes Bahrul Maghfiroh di Kota Malang dan Ponpes An-Nur di Kabupaten Malang. Sayangnya, di Kota Batu belum ada. Sebab, kebanyakan SPPG di Kota Batu dibukan pihak swasta.
Terpisah, salah seorang pengurus Ponpes Dar Ummahatil Mukminin di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Nabila Al-Hadad mengaku telah mengikuti proses pendataan dan verifikasi dari Kantor Kemenag Kota Batu beberapa waktu lalu. Dia memiliki 170 santri putri yang mukim di ponpes.
“Kami diminta untuk menyetorkan data santri meliputi nama diri, nama orang tua, dan alamat asal, tempat dan tanggal lahir, serta Nomor Induk Kependudukan (NIK),” jelasnya. Semua sudah tuntas dilaporkan ke Kemenag Kota Batu yang kemudian disetorkan kepada BGN. Pihaknya mengaku mendukung penuh program tersebut.
Nabila optimistis para santrinya akan lolos verifikasi. Sebab, santri hanya melakukan kegiatan belajar agam di lingkungan ponpes saja. Alias tidak menempuh pendidikan formal di sekolah. Program nyantri di sana dilakukan selama delapan semester atau empat tahun. Para santri biasanya akan lanjut ikut program kejar paket setelah lulus dari ponpes.
Dia menambahkan ada Ponpes Anwaruttaufiq khusus santri putra yang beroperasi tidak jauh dari Ponpes Dar Ummahatil Mukminin. Di sana ada sekitar 150 santri putra. Ponpes tersebut juga mengikuti proses pendataan dan verifikasi yang dilakukan Kemenag Kota Batu.
Dua ponpes itu selama ini menyediakan makan sebanyak tiga kali dalam sehari. Menu yang diberikan berbeda-beda. Jika MBG benar-benar menyasar santri ponpes, maka pengurus hanya perlu menyediakan dua kali makan saja. Yakni untuk sarapan dan makan malam. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho