leh: Raihan Aulia Berliana
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar drama politik antarnegara besar. Ketika ketegangan ini sampai pada titik penutupan Selat Hormuz, dampaknya berubah dari isu regional menjadi masalah global, alhasil ini merupakan salah satu peristiwa geopolitik yang paling berdampak terhadap stabilitas ekonomi global, bahkan bisa sampai ke dapur kita sendiri. Bagi banyak orang, Selat Hormuz terdengar seperti lokasi yang jauh dan tidak relevan.
Padahal, jalur laut ini adalah salah satu titik paling penting dalam sistem energi dunia. Tidak berlebih jika selat ini disebut sebagai “urat nadi minyak dunia”, karena sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur sempit ini setiap harinya. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga oleh seluruh dunia. Artinya, ketika selat ini ditutup akibat konflik militer, dunia seperti kehilangan salah satu jalur distribusi energi terpentingnya.
Ibaratkan jalan tol utama tiba-tiba ditutup, sehingga kemacetan tidak dapat terhindarkan. Dalam konteks global, “kemacetan” ini berarti terganggunya pasokan minyak. Ketika pasokan terganggu, hukum ekonomi sederhana langsung bekerja. Di mana barang menjadi langka, harga pun otomatis naik. Inilah yang sedang terjadi jika konflik AS–Iran terus berlanjut. Negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah tidak bisa menyalurkan minyak mereka secara maksimal, sementara negara-negara lain tetap membutuhkan energi untuk menjalankan industri, transportasi, dan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, harga minyak dunia terdorong naik.
Kenaikan harga minyak ini memiliki dampak berantai yang sangat luas terhadap berbagai sektor ekonomi. Ketika harga minyak naik, biaya transportasi tentunya meningkat, harga bahan baku naik, dan pada akhirnya harga barang dan jasa ikut terdorong naik. Kondisi ini memicu inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat.
Jika konflik ini berlangsung lama, cadangan minyak dunia akan semakin tertekan. Negara-negara besar mungkin masih memiliki cadangan strategis untuk bertahan, tetapi negara berkembang seperti Indonesia berada dalam posisi yang lebih rentan. Kita masih cukup bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Jadi, ketika harga minyak dunia naik, dampaknya cepat terasa di dalam negeri ini.
Di Indonesia, kenaikan harga minyak biasanya berujung pada satu hal yang sangat sensitif. Pemerintah sering berada dalam dilema apakah harus menaikkan harga BBM dan berisiko memicu protes masyarakat, atau mempertahankan harga dengan subsidi besar yang membebani anggaran negara. Keduanya sama-sama tidak mudah. Dampaknya tidak berhenti di situ. Ketika harga BBM naik, biaya transportasi ikut naik, ongkos distribusi barang meningkat, harga bahan pokok seperti beras, sayur, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya ikut terdorong naik. Inilah yang disebut efek domino ekonomi. Dalam istilah akademis, kondisi ini berkontribusi terhadap inflasi kenaikan harga secara umum yang bisa menurunkan daya beli masyarakat.
Bagi anak muda, terutama mahasiswa, dampak ini mungkin terasa dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti uang jajan terasa cepat habis, harga makanan naik, biaya transportasi ke kampus meningkat, hingga peluang kerja yang semakin ketat karena perusahaan harus menekan biaya operasional. Jadi, meskipun konflik terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, efeknya tetap terasa sangat dekat. Selain itu, konflik berkepanjangan juga bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Investor asing cenderung lebih berhati-hati dan bahkan menarik dana dari negara berkembang ketika situasi global tidak pasti. Hal ini bisa menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, yang pada akhirnya semakin memperparah kenaikan harga barang impor, termasuk energi.
Namun, di balik semua risiko ini, ada satu sisi yang bisa dilihat sebagai peluang. Krisis energi seperti ini seharusnya menjadi “alarm” bagi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju energi alternatif. Ketergantungan yang terlalu besar pada minyak membuat kita rentan terhadap konflik global. Energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko tersebut. Konflik AS–Iran dan penutupan Selat Hormuz adalah contoh nyata bagaimana dunia saat ini saling terhubung. Tidak ada negara yang benar-benar “jauh” dari dampak sebuah konflik. Dalam era globalisasi, satu titik krisis bisa menyebar cepat ke seluruh dunia, termasuk ke negara seperti Indonesia.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah “sampai kapan konflik ini akan berlangsung?” Jika tidak ada penyelesaian diplomatik, dampaknya bisa semakin luas bukan hanya kenaikan harga minyak, tetapi juga potensi krisis ekonomi global. Oleh karena itu, peran diplomasi internasional menjadi sangat penting. Dunia membutuhkan stabilitas, bukan eskalasi konflik.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS–Iran bukan hanya isu geopolitik, tetapi juga ancaman nyata bagi ekonomi global dan nasional. Selama konflik terus berlanjut, cadangan minyak akan semakin tertekan dan harga akan terus naik. Bagi Indonesia, dampaknya bisa dirasakan langsung melalui kenaikan harga BBM, inflasi, dan tekanan ekonomi lainnya. Bagi kita sebagai generasi muda, penting untuk memahami bahwa isu global seperti ini bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru, pemahaman ini bisa menjadi bekal untuk berpikir kritis, mengambil peran, dan mendorong solusi - baik melalui kebijakan, inovasi, maupun perubahan gaya hidup menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Kholid Amrullah