BATU, RADAR BATU - Kebakaran di Sabana Pengol, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yang mulai terlihat Kamis (10/9) sore pukul 16.10 WIB, sempat meluas hingga mendekati kawasan ikonik Bukit Teletubbies. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif, membenarkan titik api pertama kali terdeteksi di Blok Pengol, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.
Baca Juga: Dekat Bukit Teletubbies, Sabana Pengol Bromo Terbakar, Jalur Jemplang Ditutup
Cuaca terik musim kemarau, rumput dan ilalang kering, ditambah angin kencang, membuat api merembet cepat ke area vegetasi sekitarnya. Tim gabungan dari BPBD Probolinggo dan petugas TNBTS langsung diterjunkan untuk pemadaman manual sekaligus membuat sekat api (firebreak) guna mencegah perluasan lebih jauh.
Jalur Jemplang Masih Ditutup Total
Menyusul kejadian ini, Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, memastikan penutupan akses via Jemplang, Kabupaten Malang, tetap berlaku hingga waktu yang belum ditentukan. "Untuk kelancaran upaya penanganan dan pemadaman serta memperhatikan keamanan pengunjung, maka kunjungan wisata Bromo melalui pintu masuk Jemplang ditutup untuk pengunjung," ujarnya, Jumat (11/9).
Ranu Regulo Masih Dapat Dikunjungi, Tapi Tetap Ekstra Waspada
Kabar baiknya, tidak semua spot wisata di sekitar TNBTS terdampak. Kawasan wisata Ranu Regulo dipastikan masih aman dan tetap bisa dikunjungi publik, meski wisatawan tetap diimbau ekstra waspada dan menghindari aktivitas yang berisiko memicu percikan api baru, seperti menyalakan api unggun atau membuang puntung rokok sembarangan.
Perlu dicatat, penutupan jalur wisata akibat kebakaran ini berbeda dengan status aktivitas vulkanik Gunung Bromo, yang hingga kini masih bertahan di Level II (Waspada). Jadi ada dua aspek keselamatan yang perlu diperhatikan wisatawan: perkembangan kebakaran vegetasi dan status kegunungapian Bromo itu sendiri.
Baca Juga: Gempa dari Kepulauan Seribu Terasa hingga Malang, BMKG Ungkap Penyebabnya
Sejumlah pihak juga mengingatkan dampak jangka panjang dari kebakaran ini. Kerusakan lapisan tanah dan hilangnya vegetasi penutup berisiko memicu erosi saat musim hujan tiba, sementara pemulihan ekosistem sabana di dataran tinggi seperti Bromo membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk kembali menghijau sepenuhnya.
Editor : Aditya NovrianSumber : Dari berbagai sumber