BATU, RADAR BATU - Apa yang kalian bayangkan ketika anda pertama kali masuk bioskop? Karpet yang megah, pendingin ruangan yang sejuk, poster film-film yang menempel pada dinding, dan bau khas popcorn yang menyebar keseluruh ruangan. Bahkan kadang hingga keluar bioskop wanginya sudah tercium.
Popcorn adalah salah satu makanan ikonik setiap kita pergi ke bioskop. Pergi nonton bioskop? Popcorn cemilannya. Nonton berdua sama pacar? Popcorn cemilannya. Atau jalan nonton sendiri tanpa ada gandengan? Popcorn tetap menjadi cemilan utama. Tapi, tahukah kamu bahwa popcorn awalnya tidak dijual di bioskop, bahkan sempat dilarang dijual di bioskop? Coba simak penjelasan berikut.
Pada awal perkembangan bioskop di Amerika Serikat, popcorn justru dianggap sebagai makanan yang tidak pantas berada di dalam gedung bioskop. Pemilik bioskop ingin menciptakan suasana mewah seperti teater dan menganggap popcorn dapat mengotori karpet serta mengganggu penonton.
Baca Juga: Nonton Film Sendiri di Bioskop: Aneh atau Justru Menyenangkan?
Situasi berubah ketika Amerika Serikat memasuki masa Great Depression pada 1930-an. Ketika masyarakat mulai kesulitan mengeluarkan uang untuk hiburan, popcorn menjadi pilihan menarik karena harganya murah. Pedagang popcorn pun mulai berjualan di sekitar bioskop.
Pemilik bioskop kemudian menyadari bahwa makanan tersebut memiliki keuntungan besar. Salah satu contohnya terjadi pada 1938. R.J. McKenna, seorang pengelola bioskop, melaporkan bahwa jaringan bioskopnya mengalami kerugian dari penjualan tiket, tetapi justru memperoleh hampir US$200.000 dari popcorn dalam satu tahun.
Sejak saat itu, bioskop mulai menjual popcorn sendiri. Hubungan keduanya semakin kuat selama Perang Dunia II ketika permen mengalami kendala akibat penjatahan gula. Pada 1945, hampir setengah produksi popcorn di Amerika Serikat dikonsumsi di bioskop.
Hingga saat ini, popcorn bisa kita temui dan kita beli setiap kali kita ingin menonton film di bioskop. Popcorn juga semakin hari semakin memiliki varian rasa terbaru: Karamel, sweet glaze, dan asin. Krisis ekonomi membuat cemilan sederhana ini berubah menjadi salah satu ikonik paling kuat dari pengalaman pergi ke bioskop.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Sumber dari berbagai sumber