Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Tinggalkan Mal, Gen Z di Kota Batu Lebih Pilih ‘Nongki’

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 7 Juni 2026 | 19:30 WIB
RockHills Batu, bisa jadi jujugan ketika ingin nongkrong cantik di Batu!
RockHills Batu, bisa jadi jujugan ketika ingin nongkrong cantik di Batu!

 

BATU, RADAR BATU - Perubahan pola konsumsi dan interaksi sosial kini tengah memukul eksistensi sektor ritel konvensional di Kota Batu. Memasuki pertengahan tahun ini, Generasi Z (Gen Z) di kota wisata ini secara masif mulai meninggalkan tradisi berbelanja langsung ke pusat perbelanjaan. Kalangan muda ini lebih memilih menghabiskan waktu luang dan uang mereka di kedai kopi untuk membangun relasi.

Sementara, urusan belanja pakaian sepenuhnya dialihkan ke platform digital yang dinilai lebih efisien. Fenomena pergeseran ruang sosial ini diamini Sufahmi Anggraheni, perwakilan Gen Z asal Desa Tlekung. Ia menyebut mayoritas teman sebayanya menjadikan kedai kopi sebagai inkubator pertukaran ide.

BACA JUGA: Cari Bakso Jumbo di Pujon? Bakso Klenger 29 Bisa Jadi Pilihan

“Kami jauh lebih suka mengopi ketimbang menyusuri mal. Di meja kopi, kami bisa saling tukar ilmu, membahas ide bisnis, dan memperluas relasi,” ujarnya. Latar belakang rekan diskusinya pun beragam, mulai dari birokrat pemerintahan, pedagang, hingga pengusaha muda. Topik yang dibedah meluas dari urusan politik, ekonomi, hingga biologi.

Berdasarkan pengamatannya, perbandingan minat generasi muda untuk singgah ke kafe dibanding mal kini menyentuh rasio tujuh banding tiga. Kematian minat belanja fisik ini dipicu oleh kepraktisan ekosistem digital. Sufahmi dan kawan-kawannya merasa enggan membuang tenaga keluar rumah hanya untuk mencari baju.

BACA JUGA: Malang Raya Masuk Musim Bediding, Begini Dampaknya bagi Kesehatan

Mereka lebih tergiur aneka fitur platform e-commerce seperti subsidi ongkos kirim, diskon besar, fasilitas cicilan paylater, hingga kemudahan retur barang. Fungsi pusat perbelanjaan di mata generasi ini pun telah menyusut drastis. Jika sesekali singgah ke mal, tujuan mereka sebatas mencari kuliner atau hiburan pribadi (me time).

Di sisi lain, Sufahmi juga mengingatkan pentingnya kurasi lingkungan pergaulan saat nongkrong di kafe. Pemilihan teman diskusi yang selektif sangat krusial agar waktu luang tidak terbuang percuma pada pusaran energi yang negatif dan tidak produktif.

Dampak pergeseran perilaku konsumen ini dirasakan langsung pelaku industri ritel fisik. Staf Hospitality and Retail Plaza Batu Sundari mengakui perubahan tajam pada demografi pengunjungnya. Saat ini, lorong-lorong mal lebih didominasi generasi milenial atau usia dewasa yang mengutamakan kepastian ukuran lewat coba-pakai barang secara langsung.

BACA JUGA: Jatim Park 2 Tawarkan Tiga Wisata dalam Satu Tiket, Cocok untuk Keluarga

Sebaliknya, ia membenarkan bahwa pasar Gen Z telah sepenuhnya bermigrasi ke ranah virtual. Pembeli produk mereka di platform daring rata-rata justru didominasi kelompok usia muda tersebut. Menghadapi ancaman senjakala ritel luring ini, Plaza Batu menolak pasrah pada keadaan.

Pengelola mal membongkar strategi pemasaran dengan ikut terjun ke pasar digital. “Selain mengandalkan toko fisik, kami kini memperluas jaringan penjualan sepatu dan pakaian melalui toko daring. Kami juga aktif menggandeng sejumlah konten kreator untuk memancing kembali atensi konsumen dari kalangan Gen Z,” tegas Sundari. (Ramyzard Rafsanjani/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#nongkrong #Gen Z