Fenomena ini ternyata tidak hanya berkaitan dengan penggunaan media sosial, tetapi juga berhubungan dengan kondisi psikologis seseorang. Perubahan suasana hati yang cepat menjadi salah satu faktor utama. Konten yang terasa lucu, menarik, atau relevan saat diunggah bisa saja terlihat memalukan beberapa jam kemudian ketika emosi pengguna sudah berubah.
Selain itu, rasa takut terhadap penilaian orang lain juga turut memengaruhi keputusan untuk menghapus story. Banyak pengguna khawatir unggahan mereka dianggap berlebihan oleh teman, rekan kerja, atau orang yang mereka sukai. Kekhawatiran tersebut memunculkan kecemasan sosial yang membuat seseorang meninjau ulang konten yang telah dibagikan.
Baca Juga: Makan Tengah Malam, Kebiasaan Sepele yang Bisa Mengganggu Kesehatan
Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan sindrom cringe, yaitu rasa malu ketika melihat kembali ekspresi atau perilaku diri sendiri. Menariknya, rasa cringe tidak selalu menunjukkan sesuatu yang buruk. Dalam psikologi, kondisi ini justru dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami perkembangan cara berpikir dan perubahan standar terhadap dirinya sendiri.
Di sisi lain, ada pula pengguna yang menghapus story karena merasa tujuan unggahan tersebut telah tercapai. Misalnya, ketika teman tertentu atau seseorang yang menjadi target perhatian sudah melihat story tersebut. Setelah itu, unggahan dianggap tidak lagi perlu ditampilkan kepada publik.
Meski demikian, kebiasaan menghapus story sebelum 24 jam merupakan hal yang wajar di era digital. Media sosial memberikan kendali penuh kepada pengguna untuk mengatur citra diri dan jejak digital mereka. Oleh karena itu, keputusan untuk mempertahankan atau menghapus unggahan sering kali menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan dan mengelola dirinya di ruang digital.
Baca Juga: Dari Pizza hingga Pasta, Ini Tempat Menikmati Kuliner Italia di Malang Raya
Editor : Aditya Novrian