BATU, RADAR BATU - Pemanfaatan ruang terbuka publik sebagai wadah bakat seni generasi muda kian mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Ruang berekspresi ini tergambar jelas saat dentuman musik elektronik racikan disjoki (DJ) cilik Abid Seiya sukses menghipnotis ratusan warga yang memadati area Car Free Day (CFD) Mbatu Sae di kawasan Stadion Gelora Brantas kemarin (24/5).
Kepercayaan diri Abid di balik turntable melampaui usianya. Kepiawaiannya mengatur transisi nada dan membangun interaksi dengan penonton mampu mengubah atmosfer olahraga pagi yang santai menjadi arena hiburan yang meriah. Alunan musik bertenaga itu sontak membuat warga lintas generasi larut dalam irama.
BACA JUGA: Kuliner Tradisional yang Tak Pernah Gagal, Rekomendasi Gado-Gado Enak di Kota Batu
Murni Yuniati, ibunda Abid menyatakan penampilan putranya didorong oleh tingginya antusiasme masyarakat pada aksi sebelumnya. Panggung terbuka ini sengaja dimanfaatkan sebagai laboratorium mental bagi sang anak.
“Ini bukan sekadar hiburan. Panggung ini adalah tempat ia belajar membaca karakter penonton, mengontrol emosi, dan membangun jam terbang di ruang publik,” ungkap Murni.
Lebih dari sekadar asah bakat individu, Murni ingin aksi putranya menginspirasi anak muda lain agar berani tampil percaya diri.
BACA JUGA: Sekawan Limo 2: Gunung Klawih Siap Tayang, Trailer dan Komentar dari Warganet Bikin Makin Penasaran
Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya literasi parenting agar orang tua bersedia memberikan dukungan penuh terhadap potensi nonakademik anak-anak mereka. Kehadiran talenta muda ini terbukti menyuntikkan energi baru bagi rutinitas akhir pekan warga.
Yayuk Sri Rahayu, salah satu pengunjung setia CFD mengaku kehadiran musik ritmis tersebut efektif memanaskan semangat massa. “Sebelum senam zumba dimulai, energi kami sudah dibakar duluan. Olahraga jadi jauh lebih antusias,” ujarnya.
Aksi memukau Abid di panggung CFD Mbatu Sae menegaskan pergeseran fungsi fasilitas umum perkotaan. Area bebas kendaraan tak lagi sekadar arena olahraga mekanis, melainkan juga bisa menjadi panggung apresiasi seni rakyat yang inklusif. (adv/ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan