Fenomena ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, kesehatan mental, hingga perubahan pola pikir generasi muda terhadap hubungan. Banyak Gen Z merasa perlu mencapai kestabilan finansial terlebih dahulu sebelum memikirkan rumah tangga di tengah biaya hidup yang semakin tinggi dan harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Selain faktor ekonomi, banyak anak muda juga lebih memilih fokus pada pengembangan diri, pendidikan, dan karier. Mereka ingin menikmati kebebasan, mengejar mimpi, hingga membangun kehidupan yang stabil tanpa terburu-buru memikul tanggung jawab besar dalam pernikahan.
Baca Juga: Pemkot Batu Sebut Pedagang Simpang Patih Tak Tertib Retribusi
Tidak sedikit pula Gen Z yang tumbuh dengan melihat konflik rumah tangga, perceraian, atau hubungan toxic di lingkungan sekitar mereka. Hal tersebut membentuk trauma masa kecil bagi Gen Z, sehingga lebih berhati-hati dalam memilih pasangan dan takut terjebak dalam pernikahan yang tidak sehat.
Media sosial juga ikut memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. Banyak diskusi tentang realita rumah tangga, beban finansial, hingga tingginya angka perceraian membuat mereka semakin sadar bahwa menikah bukan sekadar soal romantisme, tetapi juga kesiapan mental dan emosional.
Meski begitu, bukan berarti Gen Z anti menikah. Banyak dari mereka tetap ingin membangun keluarga, tetapi memilih menunggu waktu yang dianggap benar-benar siap. Bahkan banyak pasangan lebih memilih intimate wedding dibandingkan pesta besar karena lebih sakral dan hangat.
Baca Juga: Pemkot Batu Sebut Pedagang Simpang Patih Tak Tertib Retribusi
Editor : Aditya Novrian