Mengapa Ini Terjadi?
Saat pertama kali mendengar lagu yang disukai, otak akan melepaskan hormon dopamin yang memicu rasa senang dan nyaman. Karena efek itulah seseorang cenderung ingin mendengarkan lagu yang sama terus-menerus untuk mengulang perasaan bahagia tersebut.
Selain memicu hormon kebahagiaan, lagu favorit juga sering menjadi tempat pelarian emosional. Banyak orang merasa lirik atau suasana lagu tertentu sangat relate dengan kondisi hidup mereka, mulai dari jatuh cinta, patah hati, stres, hingga rasa kesepian. Tidak heran jika lagu tersebut diputar berulang kali karena dianggap mampu mewakili perasaan yang sulit diungkapkan.
Baca Juga: Glamping di Kota Batu Jadi Pilihan Favorit untuk Healing dan Staycation
Fenomena ini juga dipengaruhi rasa nyaman terhadap sesuatu yang familiar. Otak manusia cenderung menyukai pola yang bisa diprediksi. Saat mendengar lagu yang sama, seseorang sudah tahu kapan bagian reff, beat drop, atau lirik favorit akan muncul sehingga memberikan rasa aman dan tenang.
Namun, semakin sering lagu diputar, otak lama-kelamaan akan terbiasa. Efek dopamin yang awalnya terasa menyenangkan mulai menurun karena otak tidak lagi mendapatkan sensasi baru. Kondisi ini membuat lagu yang sebelumnya sangat disukai perlahan terasa biasa saja hingga akhirnya memunculkan rasa bosan.
Fenomena ini sering disebut sebagai repeater phase atau earsucker, yaitu fase ketika seseorang terobsesi pada satu lagu tertentu dalam periode waktu tertentu. Banyak anak muda menganggap kebiasaan ini sebagai hal yang relate karena hampir semua orang pernah memiliki satu lagu yang diputar terus setiap hari sebelum akhirnya ditinggalkan dan berganti dengan lagu favorit berikutnya.
Baca Juga: Apa Itu PPPK? Ini Perbedaan dengan CPNS yang Wajib Diketahui
Editor : Aditya Novrian