BATU, RADAR BATU – Kota Batu dan kawasan Malang Raya dikenal memiliki banyak gunung favorit bagi pendaki, mulai jalur wisata hingga pendakian ekstrem. Namun, di balik indahnya panorama alam pegunungan, masih banyak pendaki yang belum memahami aturan dan etika dasar selama berada di gunung.
Berbagai larangan saat mendaki sebenarnya dibuat bukan tanpa alasan. Selain menjaga kelestarian alam, aturan tersebut juga penting demi keselamatan para pendaki sendiri. Salah satu pelanggaran yang paling sering terjadi adalah membuang sampah sembarangan, termasuk meninggalkan tisu basah dan sampah plastik di jalur pendakian.
Baca Juga: Menyusuri Air Terjun Kembar Watu Ondo di Kawasan Cangar
Tisu basah menjadi barang yang sebaiknya tidak digunakan sembarangan karena mengandung bahan plastik yang sulit terurai di alam. Selain itu, sisa makanan, bungkus mi instan, dan botol plastik yang ditinggalkan di gunung dapat merusak ekosistem serta mengganggu satwa liar di sekitar jalur pendakian.
Pendaki juga dilarang memotong jalur atau membuat jalan pintas. Kebiasaan ini sering dianggap sepele, padahal dapat memicu erosi tanah, merusak vegetasi, dan meningkatkan risiko tersesat, terutama saat cuaca berkabut atau hujan deras.
Selain menjaga alam, pendaki perlu memperhatikan perlengkapan yang digunakan. Banyak pendaki pemula masih memakai celana jeans saat naik gunung, padahal bahan denim mudah menyerap air dan sulit kering sehingga berisiko memicu hipotermia ketika suhu dingin.
Hal lain yang sering diabaikan adalah penggunaan parfum berlebihan di area gunung. Aroma menyengat dapat menarik perhatian serangga maupun hewan liar, sementara penggunaan sabun atau deterjen di sumber air gunung dapat mencemari air yang digunakan banyak orang.
Larangan lain yang juga sering diingatkan pengelola jalur pendakian adalah tidak melakukan perbuatan asusila atau mesum di area gunung. Selain melanggar norma sosial dan agama, gunung juga dipandang sebagai kawasan konservasi dan tempat sakral oleh masyarakat sekitar sehingga tindakan tersebut dapat memicu sanksi adat maupun teguran dari pengelola pendakian.
Pendaki juga diwajibkan mematuhi prosedur keselamatan seperti registrasi SIMAKSI, membawa perlengkapan standar, dan tidak memaksakan diri mendaki saat cuaca buruk. Fenomena meningkatnya minat mendaki di kalangan anak muda membuat edukasi soal etika gunung semakin penting agar alam tetap aman, nyaman, dan lestari bagi semua orang.
Baca Juga: Belanja Pegawai Sudah 38 Persen, Pemecahan Dua Dinas Baru Kota Batu Disorot DPRD
Editor : Aditya Novrian