Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Film Pesta Babi Ramai Dibahas Anak Muda, Dokumenter Isu Papua yang Picu Banyak Diskusi di Media Sosial

Parahita Ade Kumala • Rabu, 20 Mei 2026 | 06:00 WIB
Poster fil dokumenter
Poster fil dokumenter 'Pesta Babi' (instagram/cypripajudale)
BATU, RADAR BATU – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan anak muda dan mahasiswa. Film garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut menarik perhatian publik karena mengangkat isu Papua dari sudut pandang masyarakat adat yang terdampak proyek pembangunan skala besar.

Di berbagai platform media sosial, banyak pengguna membagikan potongan video, ulasan, hingga komentar emosional setelah menonton film tersebut. Tidak sedikit yang mengaku merasa “sesak” dan tersadar bahwa pembangunan besar yang selama ini dianggap sebagai kemajuan ternyata juga menyimpan persoalan sosial dan lingkungan yang jarang dibahas secara luas.

Berbeda dari film dokumenter pada umumnya, Pesta Babi tidak hanya menampilkan persoalan lingkungan, tetapi juga memperlihatkan hubungan masyarakat adat dengan tanah, hutan, dan ruang hidup mereka. Film berdurasi sekitar 95 menit itu menyoroti perubahan besar di Papua Selatan akibat ekspansi perkebunan dan proyek pangan nasional yang dinilai mengancam kehidupan masyarakat lokal.

Baca Juga: Fenomena Backburner Makin Sering Terjadi di Kalangan Gen Z, Hubungan Tanpa Kejelasan Jadi Pemicunya

Hutan adat milik masyarakat suku Malind, Awyu, hingga Muyu yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka perlahan berubah menjadi kawasan industri perkebunan dan proyek pangan berskala besar. Lewat dokumenter ini, penonton diajak melihat bagaimana pembangunan modern dapat menghadirkan dilema antara pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Judul Pesta Babi sendiri menjadi salah satu hal yang paling memicu rasa penasaran publik. Dalam budaya Papua, babi memiliki makna penting dan sakral dalam kehidupan adat. Lewat judul tersebut, film ini menghadirkan kritik simbolik terhadap pihak-pihak yang dianggap menikmati keuntungan besar di tengah hilangnya ruang hidup masyarakat lokal.

Ramainya pembahasan film ini juga dipicu kabar sejumlah acara nonton bareng atau nobar yang dibubarkan di beberapa daerah. Hal itu membuat rasa penasaran publik semakin tinggi dan memunculkan perdebatan soal kebebasan berekspresi, kritik sosial, hingga cara anak muda memandang isu pembangunan saat ini.

Meski menuai kontroversi, banyak anak muda justru melihat Pesta Babi sebagai bentuk keberanian sineas dokumenter dalam mengangkat isu sosial dan lingkungan. Potongan adegan film hingga cuplikan diskusi kini ramai beredar di TikTok dan X, membuat semakin banyak orang penasaran dengan isi dokumenter tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa film dokumenter mulai kembali diminati generasi muda sebagai ruang untuk memahami isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan dari sudut pandang yang lebih dekat dengan realitas masyarakat.

Baca Juga: Melipir Sedikit dari Batu, Nikmati Nongkrong Santai di Kafe-Kafe Daerah Sengkaling

Editor : Aditya Novrian
#pesta babi #film dokumenter #indonesia