Film ini mengisahkan Johan yang diperankan Yusuf Mahardika, seorang pemuda yang hidup terisolasi bersama ibunya di sebuah penangkaran buaya terpencil. Hubungan keduanya terasa sangat dekat, tetapi perlahan berubah menjadi hubungan yang mengekang dan penuh kontrol.
Konflik mulai memanas saat Johan mengenal perempuan bernama Arumi yang diperankan Zulfa Maharani. Kehadiran Arumi membuat hubungan ibu dan anak tersebut berubah drastis hingga memunculkan kecemburuan, tekanan psikologis, dan konflik emosional yang semakin mencekam.
Baca Juga: Libur Panjang Mei, Kota Batu Kejar 560 Ribu Wisatawan dan Ledakan Okupansi Hotel
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada metafora buaya yang digunakan sepanjang cerita. Buaya digambarkan bukan hanya sebagai hewan biasa, tetapi simbol cinta yang protektif, posesif, sekaligus berbahaya. Relasi Mama Johan dengan anaknya terasa mirip seperti karakter buaya betina yang menjaga teritorinya dengan agresif.
Akting Marissa Anita sebagai Mama Johan menjadi sorotan utama. Karakternya berhasil menghadirkan sosok ibu yang kompleks, membuat penonton merasa takut, kasihan, sekaligus kesal dalam waktu bersamaan.
Selain ceritanya yang berbeda dari film Indonesia pada umumnya, Crocodile Tears juga berhasil membangun suasana tidak nyaman yang membuat penonton terus penasaran. Ketegangan dalam film terasa perlahan, tetapi intens hingga menuju akhir cerita.
Film produksi Talamedia ini sebelumnya telah diputar di lebih dari 30 festival film internasional, termasuk Toronto International Film Festival. Campuran genre drama, thriller psikologis, dan sentuhan horor membuat film ini terasa unik dan tidak mudah ditebak.
Tidak hanya menyuguhkan konflik keluarga yang rumit, Crocodile Tears juga menghadirkan ending yang mengejutkan. Teka-teki mengenai karakter Mama Johan berhasil membuat banyak penonton terkecoh hingga akhir film.
Baca Juga: DJ Cilik Guncang Panggung CFD Mbatu Sae Kota Batu
Editor : Aditya Novrian