Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Menuruti Gaya Hidup di Tengah Dompet yang Kian Menipis: Seni Bertahan Hidup Mahasiswa

Parahita Ade Kumala • Kamis, 7 Mei 2026 | 04:00 WIB
Ilustrasi hedonisme (sumber foto: magnific)
Ilustrasi hedonisme (sumber foto: magnific)
BATU, RADAR BATU - Gaya hidup tinggi di kalangan mahasiswa kian menjadi fenomena yang umum terjadi, terutama di era media sosial saat ini. Banyak mahasiswa tetap berusaha mengikuti tren meski kondisi keuangan terbatas.

Kebiasaan ini memunculkan dilema, antara memenuhi gaya hidup atau bertahan dengan kondisi dompet yang semakin menipis. Fenomena ini marak di berbagai lingkungan kampus, dan dipengaruhi oleh tekanan sosial serta kebutuhan akan eksistensi di media sosial.

Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus memutar otak untuk tetap bertahan. Mulai dari mengatur pengeluaran, mencari penghasilan tambahan, hingga menekan kebutuhan yang tidak mendesak menjadi strategi yang kerap dilakukan.

Dalam praktiknya, gaya hidup tinggi sering kali dipicu oleh keinginan untuk terlihat setara dengan lingkungan sekitar. Media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mendorong mahasiswa untuk mengikuti tren, mulai dari nongkrong di kafe, membeli barang branded, hingga gaya hidup konsumtif lainnya. Padahal, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi finansial yang mendukung.

Baca Juga: Lolos Administrasi, 6 Kandidat Sekda Batu Hadapi Tes Berlapis hingga 21 Mei

Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan di pertengahan hingga akhir bulan. Kondisi ini memaksa mereka untuk lebih kreatif dalam bertahan hidup. Beberapa cara yang umum dilakukan antara lain memasak sendiri untuk menghemat biaya makan, membatasi pengeluaran harian, hingga memanfaatkan promo dan diskon.

Selain itu, banyak mahasiswa mulai mencari solusi jangka panjang seperti bekerja paruh waktu, freelance, atau membuka usaha kecil-kecilan. Langkah ini tidak hanya membantu menambah pemasukan, tetapi juga melatih kemandirian finansial sejak dini.

Pentingnya literasi keuangan juga menjadi krusial dalam hal ini. Mahasiswa yang mampu mengelola keuangan dengan baik cenderung lebih siap menghadapi kondisi darurat, seperti membuat anggaran bulanan, mencatat pengeluaran, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi langkah sederhana yang berdampak besar.

Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan sosial memiliki pengaruh kuat terhadap pola hidup mahasiswa. Keinginan untuk tidak tertinggal tren sering kali mengalahkan pertimbangan rasional terkait kondisi keuangan.

Sebagai tambahan, kebiasaan hidup hemat harus dimiliki kalangan mahasiswa. Sejak dulu, mahasiswa dikenal dengan berbagai cara kreatif untuk bertahan, mulai dari berbagi kebutuhan dengan teman hingga memanfaatkan fasilitas kampus secara maksimal.

Fenomena gaya hidup tinggi di tengah keterbatasan finansial ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan sangat penting. Bagi mahasiswa, kemampuan bertahan hidup itu tentang bagaimana mengelola keuangan secara bijak di tengah tekanan gaya hidup.

Baca Juga: 4 Nama Terdepak, 6 Pejabat Internal Berebut Kursi Sekda Kota Batu

Editor : Aditya Novrian
#hedon #hidup hemat #mahasiswa #lifestyle