Fenomena ini banyak ditemui di berbagai kampus, terutama di kalangan mahasiswa yang aktif di media sosial. Momen kelulusan tidak hanya dirayakan dengan ucapan, tetapi juga dengan buket bunga, snack, hingga kado bernilai cukup tinggi.
Di satu sisi, hadiah ini memang menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan panjang yang telah dilalui. Memberi hadiah dianggap sebagai cara sederhana untuk menunjukkan perhatian dan ikut merayakan keberhasilan teman.
Namun di sisi lain, muncul tekanan sosial yang tidak disadari. Banyak mahasiswa merasa tidak enak jika tidak memberi hadiah, terutama ketika teman-teman lain melakukan hal yang sama.
Kondisi ini membuat makna hadiah perlahan bergeser. Dari yang awalnya tulus, menjadi semacam ekspektasi tidak tertulis dalam pertemanan.
Faktor media sosial juga turut memperkuat fenomena ini. Unggahan momen sidang lengkap dengan hadiah yang berjejer sering kali memicu perbandingan di antara mahasiswa.
Beberapa mahasiswa bahkan mengaku harus menyisihkan uang khusus hanya untuk kebutuhan ini. Hal tersebut tentu bisa menjadi beban tersendiri, apalagi di tengah kondisi finansial yang terbatas.
Meski begitu, tidak semua memandang tradisi ini negatif. Selama dilakukan dengan niat baik dan tanpa paksaan, memberi hadiah tetap bisa menjadi bentuk dukungan yang bermakna.
Baca Juga: Wisata dengan Wahana Bianglala di Kota Batu, Nikmati Pemandangan Kota dari Ketinggian
Pada intinya, yang perlu ditekankan adalah esensi dari momen tersebut. Kehadiran, doa, dan dukungan emosional sering kali jauh lebih berarti dibandingkan hadiah fisik.
Menjaga keseimbangan antara apresiasi dan kemampuan diri menjadi kunci, agar tradisi ini tetap menyenangkan tanpa berubah menjadi beban.
Editor : Aditya Novrian