Blind box biasanya berisi mainan, figur karakter, gantungan kunci, atau merchandise unik. Sensasi kejutan saat membuka kemasan membuat perasaan ketika membeli terasa lebih seru dan berbeda dibanding membeli barang biasa.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren ini semakin populer karena banyak konten unboxing yang viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Konten tersebut mendorong rasa penasaran sekaligus keinginan penonton untuk ikut mencoba, sehingga banyak yang menjadikan mengoleksi blind box sebagai hobi.
Baca Juga: Cegah Bundir, Jembatan Cangar Bakal Dipagar
Di sisi lain, fenomena ini juga berkaitan dengan perilaku konsumtif, terutama karena adanya efek Fear of Missing Out (FOMO) yang membuat seseorang takut ketinggalan tren.
Banyak pembeli awalnya hanya coba-coba, tetapi akhirnya membeli berulang kali karena ingin mendapatkan item tertentu yang diinginkan atau dianggap langka.
Selain itu, rasa penasaran juga memengaruhi karena menurut jurnal Syntax, elemen ketidakpastian, nilai sosial, serta respons emosional menjadi alasan utama seseorang terus membeli blind box.
Strategi kelangkaan produk semakin memperkuat tren ini, di mana beberapa item hanya tersedia dalam jumlah terbatas sehingga meningkatkan keinginan untuk terus membeli.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa membentuk pola konsumtif. Seseorang menjadi terbiasa membeli berdasarkan keinginan sesaat, bukan kebutuhan.
Meski terlihat sebagai hobi yang menyenangkan, tanpa kontrol yang baik, kebiasaan ini bisa berdampak pada kondisi keuangan karena pembelian sering dilakukan secara impulsif.
Meski begitu, bagi sebagian orang, blind box tetap memberikan hiburan tersendiri dan menjadi cara sederhana untuk melepas penat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pola konsumsi anak muda kini tidak hanya didasari kebutuhan, tetapi juga emosi dan pengaruh media sosial, sehingga perlu disikapi dengan lebih bijak.
Baca Juga: Sumur Bor Disorot, Warga Sumberbrantas Curiga Eksploitasi Air Tanah, Debit Sungai Menurun
Editor : Aditya Novrian