Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Tren 'Pelari Kalcer’, Lari untuk Kesehatan atau Mengikuti Gaya Hidup?

Parahita Ade Kumala • Rabu, 29 April 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi olahraga lari (sumber foto: freepik)
Ilustrasi olahraga lari (sumber foto: freepik)
BATU, RADAR BATU – Tren olahraga lari kini semakin populer di kalangan anak muda, khususnya Gen Z, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat di tengah menjalani rutinitas.

Fenomena ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak media sosial menjadi ruang untuk berbagi aktivitas harian, termasuk olahraga.

Namun, di balik tren tersebut, muncul istilah ‘pelari kalcer’, yakni seseorang yang menjadikan lari tidak hanya sebagai olahraga yang menyehatkan tubuh, tetapi juga bagian dari identitas sosial dan gaya hidup.

Istilah ini merujuk pada pelari yang tidak fokus pada jarak atau kecepatan, tetapi pelari yang memperhatikan outfit, sepatu, hingga tampilan estetik saat berlari.

Baca Juga: Peran Estrakulikuler Di Sekolah, Apa Manfaatnya Bagi Siswa?

Kemunculan fenomena ini dipicu oleh maraknya penggunaan aplikasi Strava yang diunggah pada media sosial seperti Instagram dan TikTok yang mendorong pengguna untuk membagikan jarak tempuh aktivitas lari mereka.

Akibatnya, aktivitas lari yang sebelumnya hanya untuk berolahraga kini bertransformasi menjadi menjadi gaya hidup, ajang eksistensi sosial, dan tren fashion yang sangat memperhatikan penampilan (outfit on point).

Dari sisi positif, tren ini berhasil menarik minat banyak anak muda yang sebelumnya tidak aktif berolahraga untuk mulai berlari secara rutin.

Hal ini menunjukkan bahwa gaya hidup modern mampu menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan sehat di kalangan generasi muda.

Namun, di sisi lain, terjadi pergeseran makna, di mana sebagian pelari lebih fokus pada penampilan dan pengakuan sosial dibandingkan tujuan utama olahraga itu sendiri.

Tidak sedikit pula yang mulai mengaitkan aktivitas lari dengan penggunaan perlengkapan bermerek, yang secara tidak langsung mencerminkan status sosial.

Baca Juga: Babinsa Klaim Tak Terlibat Teknis Proyek KDMP

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana olahraga kini tidak terlepas dari pengaruh budaya populer dan digital dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, selama aktivitas lari tetap dilakukan secara konsisten, manfaat kesehatan seperti peningkatan kebugaran dan daya tahan tubuh tetap dapat dirasakan.

Pada akhirnya, tren ‘pelari kalcer’ mencerminkan perpaduan antara kebutuhan kesehatan dan ekspresi gaya hidup, yang perlu disikapi secara seimbang.

Baca Juga: Pemdes Diminta Adaptif Hadapi Perombakan Dana Desa

Editor : Aditya Novrian
#olahraga #lifestyle