BATU, RADAR MALANG - Semangat peringatan Hari Kartini diwujudkan secara kreatif oleh sejumlah peserta zuma di Car Free Day (CFD) MBatu Sae kemarin (26/4). Peserta perempuan kompak mengikuti zumba dengan mengenakan kebaya.
Aksi ini langsung mencuri perhatian pengunjung yang memadati area CFD. Kebaya yang biasanya identik dengan acara formal, kini tampil dalam suasana santai dan dinamis. Perpaduan ini sekaligus memberikan pesan simbolik tentang perempuan masa kini.
Salah satu peserta, Indah Lina mengatakan penggunaan kebaya merupakan inisiatif bersama sebagai bentuk perayaan Hari Kartini. Ia menyebut ide tersebut telah direncanakan sejak sepekan sebelumnya.
BACA JUGA: Progres Pemindahan Sisa Tutup U-Ditch Pasar Induk 50 Persen, Talang Masih Belum Dimulai
“Kami sengaja janjian memakai kebaya. Ini bentuk perayaan sekaligus penghormatan terhadap semangat Kartini,” ujarnya. Menurut Indah kebaya tidak harus terikat pada ruang formal. Busana tradisional itu, kata dia, tetap relevan dikenakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk olahraga ringan.
Pandangan serupa disampaikan Khusnul Khasanah. Ia mengaku tidak mengalami kendala saat mengikuti zumba meski mengenakan kebaya. “Tidak ada gangguan. Tetap nyaman dan leluasa,” katanya.
Pengalaman tersebut, lanjut Khusnul, menunjukkan fleksibilitas kebaya sebagai busana yang mampu beradaptasi dengan berbagai aktivitas. Para peserta menyiapkan diri sejak pagi. Sebagian mengenakan kebaya milik pribadi, sementara lainnya meminjam dari keluarga.
BACA JUGA: Dari Bioflok hingga Brilink, Ini Cara KDMP di Batu Bertahan di Tengah Keterbatasan
Peserta lain, Ika Gadis menilai penggunaan kebaya justru menambah semarak suasana CFD.
“Jadi lebih berwarna dan mengesankan. Ada sekitar 10 peserta yang mengenakan kebaya dalam kegiatan hari ini,” ujarnya.
Meski jumlahnya tidak banyak, kehadiran mereka memberi warna baru di ruang publik. Fenomena ini menunjukkan CFD MBatu Sae tidak hanya berfungsi sebagai ruang olahraga, tetapi juga ruang ekspresi sosial dan budaya.
Kebaya yang berpadu dengan zumba menjadi simbol bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti gaya hidup modern. Sebaliknya, keduanya bisa berjalan beriringan. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan