Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Galeri Raos Batu Hadirkan 12 Karya Seni Lukis Padukan Legenda dan Urbanisasi dalam Pameran Legenda Sastra Visual

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 29 Mei 2025 | 19:01 WIB
KAGUM: Salah seorang pengunjung mengamati salah satu karya milik Slamet Herikus di Galeri Raos Batu kemarin (28/5).
KAGUM: Salah seorang pengunjung mengamati salah satu karya milik Slamet Herikus di Galeri Raos Batu kemarin (28/5).

 

BATU - Sebanyak 12 karya seni lukis berukuran 200x290 centimeter memenuhi dinding ruang pameran Legenda Sastra Visual di Galeri Raos sejak 24 Mei lalu. Seni lukis berukuran jumbo itu merupakan karya perupa lokal asli Kota Batu, Slamet Hendro Kusumo.

Seniman yang dikenal sebagai Slamet Herikus itu mencoba menyajikan seni lukis yang berbeda dari biasanya. Terutama dalam penyajian visual dan tema yang diangkat. Dia melukiskan tokoh-tokoh dalam sebuah legenda dengan sentuhan objek-objek kekinian.

Dalam pameran tunggalnya yang keempat kalinya itu Slamet menyoroti pudarnya legenda. Termasuk mitos-mitos yang semakin dianggap tak masuk akal. Padahal setiap legenda punya makna dan pesan yang amat dalam.

“Legenda tidak hanya menggambarkan konstruksi sosial saja. Namun, juga dinamika perilaku dan sistem kebudayaan pada masa itu,” ungkapnya. Tanpa menghilangkan maknanya, Slamet menggambarkan legenda dengan visual baru dan tafsir kekinian.

Seperti salah satu karyanya yang bertajuk Jaka Tarub. Tokoh legendaris dalam kisah Babad Tanah Jawi itu dilukiskan dengan sosok Nawang Wulan, salah satu dari tujuh bidadari dalam legenda tersebut. Slamet membubuhkan modernisasi dengan visual bidadari yang menggunakan bikini.

Itu punya makna satir yang menggambarkan fenomena pergeseran gaya dan marwah berpakaian masyarakat timur. Terutama yang dilakukan perempuan. Pria berusia 66 tahun itu menilai esensi legenda menjadi instrumen penting untuk menyadarkan masyarakat terhadap norma yang sesuai budaya dan tradisi ketimuran.

Khususnya adat istiadat Jawa. “Karya dengan ukuran jumbo ini juga punya maksud bila makna yang besar tidak bisa divisualisasikan melalui media yang kecil,” ungkapnya. Slamet mengaku hanya menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk persiapan pameran tunggalnya itu.

Salah seorang pengunjung Muhammad Prasetyo mengaku kagum dengan seluruh karya yang dipamerkan. Beberapa legenda yang cukup familiar dapat divisualisasikan dengan apik. “Rasanya seperti membaca sebuah cerita dalam sebuah karya seni,” tandasnya. (dre)

Editor : A. Nugroho
#kota batam #Galeri Raos #pameran seni