RADAR BATU - Aktivitas pendakian gunung kembali diminati masyarakat, terutama generasi muda yang haus petualangan dan keindahan alam. Namun sayangnya, masih banyak pendaki yang belum menyadari bahwa apa yang mereka bawa bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan, bahkan bagi keselamatan diri sendiri.
Berbagai peraturan pendakian dari sejumlah gunung seperti Gunung Gede Pangrango, Gunung Merbabu, Gunung Prau, dan lainnya, telah mengatur barang-barang apa saja yang dilarang dibawa saat naik gunung. Peraturan ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi garis pertahanan terakhir untuk menjaga ekosistem pegunungan yang rentan rusak.
Baca Juga: LMDH Batu Bakal Buat Regulasi Pendakian Baru
Salah satu barang yang paling sering dilanggar adalah perlengkapan pembersih tubuh yang sulit terurai seperti tisu basah, sabun cair, shampoo, hingga pasta gigi. Tisu basah seringkali ditinggalkan begitu saja di jalur pendakian, padahal bahan dasarnya mengandung plastik yang butuh puluhan tahun untuk terurai. Belum lagi busa sabun dan deterjen yang digunakan di sumber air, bisa membunuh mikroorganisme alami dan mencemari aliran sungai.
Tak hanya itu, peralatan tajam seperti golok dan pisau belati juga dilarang. Meski terkesan berguna, kenyataannya alat ini kerap disalahgunakan untuk menebang pohon atau memburu satwa liar, yang jelas merusak ekosistem dan melanggar hukum konservasi.
Baca Juga: Gunung Buthak: Destinasi Pendakian Eksotis yang Wajib Dikunjungi Usai Lebaran 2025
Larangan lain yang sering dilanggar adalah membawa wireless speaker, gitar, atau alat musik portable lainnya. Suara bising tak hanya mengganggu kenyamanan pendaki lain, tapi juga membuat satwa liar stres dan berpindah habitat. Gunung bukan tempat konser, melainkan ruang hening bagi alam dan jiwa manusia.
Yang lebih berbahaya lagi adalah membawa minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. Banyak yang beranggapan alkohol bisa menghangatkan tubuh, padahal secara medis, alkohol justru menurunkan suhu inti tubuh dan berisiko menyebabkan hipotermia di suhu ekstrem. Ditambah kondisi medan yang curam dan licin, risiko kecelakaan jadi sangat tinggi.
Barang-barang berbahaya lain seperti petasan, cat semprot, dan pilox juga sering disita petugas karena berpotensi mencemari lingkungan atau bahkan memicu kebakaran hutan. Bahkan tindakan seperti membuat jalur baru atau keluar dari trek resmi juga sangat dilarang karena bisa mempercepat erosi dan merusak vegetasi alami.
Baca Juga: Benarkah Air Sumber di Gunung Bisa Langsung Diminum? Ini Risiko dan Cara Amannya!
Menurut komunitas pendaki dan Balai Besar Taman Nasional, kepatuhan terhadap peraturan ini adalah bentuk tanggung jawab sosial dan cinta alam yang sesungguhnya. Gunung bukan hanya tempat wisata, tapi juga rumah bagi ribuan flora dan fauna yang keberadaannya bergantung pada ulah manusia.
“Naik gunung itu bukan sekadar mencapai puncak. Tapi tentang bagaimana kita menjaga apa yang kita injak,” kata salah satu relawan dari komunitas pendaki Malang.
Dengan mematuhi larangan ini, pendaki turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam dan keselamatan bersama. Jadi, sebelum naik gunung berikutnya, pastikan ransel Anda bebas dari barang-barang terlarang ini—karena mendaki itu tentang mencintai, bukan merusak. (my)
Editor : A. Nugroho