BATU, RADAR BATU - Alokasi Dana Desa (DD) untuk penanganan dan pencegahan stunting di Kota Batu berbeda-beda di setiap desa. Desa Beji bahkan mengalokasikan sekitar 30 persen DD 2026 untuk program tersebut. Sedangkan, Desa Torongrejo menganggarkan sekitar 19,81 persen.
Kebijakan itu mengacu Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Permendes-PDT) Nomor 16 Tahun 2025 tentang Petunjuk Operasional atas Fokus Penggunaan DD 2026. Regulasi itu tidak menetapkan batas minimal maupun maksimal alokasi. Artinya, besarannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa.
Baca Juga: Cuka Buah dari Kota Batu Tembus Pasar Luar Negeri
Desa Torongrejo, misalnya, mengalokasikan Rp 74 juta dari DD sebesar Rp 373,46 juta untuk penanganan dan pencegahan stunting. Anggarannya digunakan untuk intervensi melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di posyandu. “Intervensi tidak ada pengurangan meski efisiensi,” ujar Kepala Desa Torongrejo, Takim.
Makanan tambahan diberikan kepada kelompok sasaran. Mulai dari ibu hamil hingga bayi berusia di bawah lima tahun (balita). Pelaksanaannya menjadi bagian dari upaya desa mencegah munculnya kasus baru sekaligus menangani anak yang membutuhkan intervensi.
Baca Juga: Karhutla Kalimantan Masih Terjadi, Kabut Asap Pekat Membuat Langit Barito Selatan Menguning
Sementara itu, Desa Beji mengalokasikan porsi yang lebih besar. Kepala Desa Beji Deny Cahyono menyebut sekitar 30 persen DD digunakan untuk penanganan stunting. Salah satunya melalui PMT.
Dengan DD sebesar Rp 373,46 juta, alokasi tersebut mencapai sekitar Rp 112 juta. Realisasinya dilakukan setiap bulan mengikuti jadwal kegiatan posyandu. Permendes-PDT Nomor 16 Tahun 2025 menetapkan sejumlah kelompok sasaran intervensi stunting.
Baca Juga: 175 Tersangka Narkoba Ditangkap di Malang, 111 Ribu Pil Dobel L Disita
“Di antaranya remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas, serta bayi berusia 0-59 bulan atau balita.” ungkapnya. Bentuk intervensinya juga beragam. Di antaranya penyuluhan dan konseling gizi, pemantauan tumbuh kembang balita, serta pemberian PMT yang mengutamakan pangan lokal.
Makanan yang diberikan diarahkan kaya protein hewani, gizi, vitamin dan mineral, serta cukup karbohidrat. Sementara itu, PMT dapat berupa makanan lengkap, makanan selingan, atau kudapan yang siap santap. Intervensi juga dapat dilakukan melalui pelatihan pengolahan makanan pendamping air susu ibu (MPASI) dengan bahan pangan lokal.
Editor : Fajar Andre Setiawan