JUNREJO, RADAR BATU - Deretan pohon tabebuya di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, mulai bermekaran. Bunga berwarna kuning yang memenuhi sejumlah ruas jalan itu menghadirkan pemandangan bak musim semi di Jepang. Pemandangan itu sontak menarik warga hingga wisatawan untuk berswafoto dan membuat konten.
Keindahan tabebuya dapat dijumpai di dua titik utama. Yakni Jalan Semeru, kawasan Wisata Bumi Lumbung Pendem, dan Jalan Terusan Wijaya Kusuma, tepat di depan Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara (Pusdik Arhanud).
Baca Juga: Cara Cek BSU Rp900 Ribu 2026 dengan NIK, Begini Langkahnya
Kepala Desa Pendem Tri Wahyuwono Efendi mengatakan, bunga tabebuya saat ini mulai mendekati puncak mekar. Sekitar 80 persen pohon di kawasan tersebut telah berbunga.
“Sudah sekitar 80 persen yang mekar. Mulainya sejak dua minggu yang lalu,” ujarnya.
Tri memprediksi puncak mekarnya tabebuya berlangsung pekan depan. Fenomena tersebut rutin terjadi setahun sekali. Umumnya menjelang akhir musim kemarau. Bunga tabebuya dapat bertahan hingga memasuki musim hujan. Namun, lama masa mekarnya bergantung pada kondisi cuaca. Itulah mengapa waktunya tidak dapat dipastikan.
Baca Juga: BSU Rp900 Ribu Segera Cair, Kapan Jadwal Pencairannya?
Deretan tabebuya di Jalan Semeru ditanam sejak 2019. Sekitar 500 pohon ditanam berjejer sepanjang hampir satu kilometer. Selain mempercantik kawasan, penanaman tersebut juga ditujukan untuk menciptakan suasana yang lebih rindang.
Sementara itu, tabebuya di Jalan Terusan Wijaya Kusuma telah ditanam jauh lebih awal.
Namun, mekarnya tabebuya tahun ini berlangsung tanpa Festival Tabebuya. Agenda tahunan yang biasanya digelar pemerintah desa bersama karang taruna tersebut ditiadakan.
Baca Juga: Herdman Terus Kasih Tahu Skor Malaysia vs Singapura, Timnas Indonesia Makin Gaspol
“Tahun ini festivalnya zero, tidak ada. Karena ada efisiensi anggaran, jadi sementara tidak kita laksanakan dulu,” kata Tri. Meski tanpa festival, warga dan wisatawan tetap dapat menikmati mekarnya tabebuya secara gratis. Deretan bunga kuning yang berguguran di sepanjang jalan tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Desa Pendem.
Editor : Fajar Andre Setiawan