Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kualitas Air Sub DAS Brantas Dipantau Intensif

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 14 Juli 2026 | 11:07 WIB
Illustrasi Pemantauan Rutin DLH
Illustrasi Pemantauan Rutin DLH

BATU, RADAR BATU - Pemantauan kualitas air di Sub DAS Brantas Hulu diperketat. Hal itu dilakukan sebagai upaya menjaga kawasan hulu. Sebab, kawasan tersebut menjadi penyangga pasokan air bagi Malang Raya. Setiap semester, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu mengalokasikan anggaran Rp 54 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengujian kualitas air di 20 titik pantau. Pengujian melibatkan konsultan independen.

Langkah itu dilakukan menyusul hasil pemantauan yang menunjukkan rata-rata Indeks Kualitas Air (IKA) di Sub DAS Brantas Hulu berada di angka 75,14 atau kategori sedang. Penurunan kualitas air terutama terjadi di wilayah tengah hingga hilir. Hal itu akibat aktivitas permukiman, pertanian, pariwisata, dan usaha komersial.

Kabid Pengendalian Pencemaran, Pemeliharaan Lingkungan, dan Pertamanan DLH Kota Batu Reni Widiastuti mengatakan pengujian kualitas air dilakukan secara berkala. Tujuannya agar kondisi sungai dapat dipantau secara objektif.

“Pengujian dilakukan setiap semester di 20 titik strategis. Anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 54 juta atau rata-rata Rp 2,7 juta untuk setiap sampel berikut analisis laboratoriumnya,” ujarnya.

Baca Juga: Grojogan Sewu Pujon, Wisata Alam dengan Suara Air Terjun dan Suasana Hutan Pinus

Pengambilan sampel difokuskan di Kecamatan Bumiaji. Pasalnya, wilayah itu merupakan kawasan hulu Sungai Brantas. Analisis dilakukan terhadap berbagai parameter pencemar. Mulai limbah domestik, peternakan, pertanian, industri, hingga aktivitas restoran dan hotel.

Hasil kajian menunjukkan kualitas air terbaik masih berada di kawasan Sumber Brantas-Arboretum dengan nilai IKA 87,73. Namun kualitas air mulai menurun di wilayah tengah seperti Coban Talun, Tulungrejo, dan Kali Junggo hingga masuk kategori sedang.

Kondisi paling tertekan ditemukan di Kali Lanang, yang mencatat beban Biochemical Oxygen Demand (BOD) mencapai 18,52 kilogram per hari dan Total Suspended Solids (TSS) sebesar 67,80 kilogram per hari.

Sebaliknya, di kawasan Sumber Brantas-Arboretum beban pencemar jauh lebih rendah, yakni BOD 1,05 kilogram per hari dan TSS 7,21 kilogram per hari. Meski demikian, DLH menyebut hingga kini belum menerima laporan pencemaran besar dari masyarakat.

Pemantauan rutin tetap dilakukan sebagai langkah pencegahan agar kualitas air tidak terus menurun. Kondisi tersebut juga dirasakan para pedagang di kawasan Alun-Alun Kota Batu yang berada di atas aliran sungai.

Baca Juga: Arboretum Sumber Brantas, Wisata Alam Sejuk dengan Pemandangan Asri di Batu

Siti Nurjannah, pedagang bakso yang telah berjualan sekitar 20 tahun, mengaku tidak mengalami gangguan berarti. Sebab, petugas DLH dinilai sigap menangani
sampah dan luapan air saat hujan deras. “Kalau banjir biasanya hanya sekitar 30 menit. Setelah itu petugas DLH datang membersihkan sehingga aktivitas jualan bisa normal lagi,” katanya.

Hal senada disampaikan Adi, pedagang kopi dan gorengan. Menurutnya, bau tidak sedap umumnya muncul akibat bangkai hewan yang dibuang ke sungai. Ia memastikan bau tersebut bukan dari aliran air itu sendiri. Ia juga mengapresiasi keberadaan jaring penyaring sampah yang rutin dibersihkan petugas.

“Kalau sampah di penyaring mulai menumpuk, kami tinggal menghubungi petugas DLH. Mereka cepat datang dan langsung mengangkutnya,” ujarnya. Namun Adi menilai kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan utama. Saat musim hujan, volume sampah yang terbawa arus meningkat. Sebab, masih ada yang membuang sampah langsung ke sungai.

Selain limbah organik, ancaman lain yang menjadi perhatian adalah mikroplastik. Karakternya berbeda dengan limbah organik yang relatif mudah terurai. Mikroplastik dapat bertahan lama di perairan. Keberadaannya berpotensi mengganggu ekosistem Sungai Brantas yang menjadi sumberair penting bagi wilayah hilir. (kr2/dre)

Editor : A. Nugroho
#IKA #BOD #TSS #DLH