BATU, RADAR BATU - Alun-Alun Kota Batu melahirkan peluang ekonomi baru. Tren pengunjung yang menjadikan alun-alun sebagai lokasi berkencan membuat penjualan bunga potong meningkat. Pedagang mampu menjual hingga 20 buket per hari, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
Fenomena itu dirasakan Mita Safitri. Sejak mulai berjualan di kawasan Alun-Alun Kota Batu pada 2025, ia melihat permintaan bunga terus tumbuh. Mayoritas pembelinya merupakan pasangan muda yang sedang menikmati suasana malam di sana.
Awalnya, Mita sempat berencana membuka usaha kuliner. Namun, ia memilih beralih ke bisnis bunga karena dinilai lebih minim risiko. Modal yang dikeluarkan relatif kecil dan produk memiliki masa simpan lebih panjang.
Baca Juga: Ekspor Bunga Hias dari Kota Batu Terganjal Barikade Karantina Global
“Kalau makanan ada risiko basi dan harus dibuang. Kalau bunga kerugiannya tidak sebesar itu,” ujarnya. Mita membeli bunga mawar seharga Rp 35 ribu per ikat berisi 25 tangkai dan bunga pikok Rp 15 ribu per ikat berisi 15 tangkai.
Bunga-bunga tersebut kemudian dirangkai menjadi buket sederhana dengan harga jual Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu. Pada hari biasa, ia mampu menjual 10 hingga 15 buket. Saat akhir pekan atau hari besar, penjualan bisa menembus 20 buket.
Dari usaha tersebut, Mita mengaku memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Meningkatnya permintaan bunga di kawasan alun-alun turut memunculkan pedagang baru.
Geliat bisnis ini sejatinya sudah lebih dulu dirintis Kudsiah, pemilik kios Mawar Bahagia yang berjualan sejak 2017. Menurutnya, popularitas bunga di Alun- Alun mulai meningkat setelah banyak pengunjung mengunggah foto dan video pembelian bunga ke media sosial.
Efek promosi digital itu membuat bunga perlahan menjadi bagian dari pengalaman wisata malam di kawasan tersebut. Untuk mempertahankan pelanggan, Kudsiah menerapkan konsep berbeda. Pembeli bebas memilih sendiri jenis dan jumlah bunga sebelum dirangkai.
Baca Juga: Jangan Cuma Bunga, Ini 5 Rekomendasi Kado Wisuda yang Bermanfaat untuk Fresh Graduate
“Pembeli bisa memilih sendiri kombinasi bunganya sesuai keinginan,” katanya. Harga yang ditawarkan bervariasi. Mulai Rp 5 ribu untuk dua tangkai hingga Rp 20 ribu untuk sebelas tangkai bunga. Keunggulan lain yang dimiliki kios tersebut adalah pasokan mandiri.
Suami Kudsiah mengelola sekitar 11 ribu tanaman bunga di lahan pribadi. Bunga dipanen setiap pagi sebelum dijual pada sore hingga malam hari. Saat ini, sedikitnya terdapat 10 jenis bunga yang dipasarkan, mulai mawar, aster, hingga pikok.
Konsumennya tidak hanya pasangan muda, tetapi juga wisatawan keluarga dan kalangan ibu rumah tangga. “Konsumen suka karena bunganya selalu segar. Bahkan, setelah kering aromanya masih bertahan cukup lama,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan geliat pariwisata Kota Batu tidak hanya menggerakkan sektor formal seperti hotel dan restoran. Perubahan perilaku wisatawan juga melahirkan ekonomi mikro baru yang memberi ruang tumbuh bagi pelaku usaha kecil di sekitar destinasi wisata. (kr2/dre)
Editor : A. Nugroho