BATU, RADAR BATU - Di tengah mulusnya restu dewan terhadap pembentukan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), usulan pembentukan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Batu terpaksa dikandaskan. Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kota Batu resmi menahan draf usulan eksekutif terkait restrukturisasi kedinasan tersebut. Alasannya, lantaran kemampuan fiskal daerah dinilai belum sanggup menanggung beban operasional baru.
Keputusan pahit ini diambil pasca-Pansus merasionalisasi secara mendalam postur keuangan daerah dalam pembahasan Raperda Penataan Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK). Anggota Pansus DPRD Kota Batu Khamim Tohari menyebut hambatan utama batalnya pembentukan Dispora adalah ketatnya regulasi dari pemerintah pusat terkait efisiensi anggaran.
“Aturan dari pusat membatasi dengan tegas porsi belanja pegawai daerah maksimal hanya boleh menyedot 30 persen dari total APBD,” terang Khamim. Kondisi riil postur keuangan Pemkot Batu saat ini rupanya masih jauh dari kata ideal karena alokasi belanja pegawai tercatat membengkak hingga menyentuh angka 36 persen. Menurutnya, ruang fiskal daerah akan sangat berisiko jika eksekutif memaksakan diri menambah struktur kedinasan baru.
Apabila usulan pembentukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru seperti Dispora tetap diketok, hal itu dikhawatirkan bakal semakin mendongkrak beban belanja pegawai sekaligus menabrak instruksi efisiensi pusat. Kendati menolak, dewan sejatinya tidak menampik tingginya urgensi pembentukan Dispora. Sektor pemuda dan olahraga di Kota Batu diakui menyimpan potensi raksasa yang belum tergarap maksimal.
BACA JUGA: Bediding Menyergap Malang Raya, Suhu Dingin Sejak Subuh Awet hingga Siang Hari
Potensi tersebut salah satunya yakni memacu pertumbuhan sektor sport tourism. Sebagai salah satu jujugan wisata utama, Kota Batu memiliki magnet luar biasa untuk menggelar berbagai agenda olahraga berskala nasional. “Apalagi event-event itu selama ini terbukti ampuh menyedot kunjungan masif dan menggerakkan roda ekonomi lokal,” ucapnya.
BACA JUGA: Kawal Piala Dunia 2026 Tanpa Loyo, Ini 5 Minuman Sehat Pengusir Kantuk Saat Nobar Dini Hari
Sayangnya, potensi emas tersebut masih terbelenggu. Pasalnya, urusan kepemudaan dan olahraga harus menempel di bawah komando Dinas Pendidikan (Disdik). Akibat belum berdiri sebagai dinas mandiri, seluruh urusan yang sangat luas dan kompleks itu terpaksa dipikul satu bidang saja, yakni Bidang Pemuda dan Olahraga (Pora).
Beban tugas yang diampu bidang ini pun menjadi sangat gemuk. Bidang Pora tidak hanya dituntut fokus mencetak serta membina atlet berprestasi yang jumlahnya terus bertambah. Namun, juga harus mengeksekusi program strategis daerah lainnya. Di antaranya penyaluran insentif pendidikan seribu sarjana.
BACA JUGA: Sesaat Setelah Mendarat, DPO Penipuan Batu Bara Richard Muljadi Diciduk di Bandara Soekarno-Hatta
Tumpukan beban kerja yang berjubel di bawah satu bidang ini dinilai membatasi ruang gerak pembinaan. Namun, dengan kandasnya usulan SOTK tersebut, Bidang Pora dipastikan gagal naik kelas. Dengan kata lain, bidang tersebut akan tetap bernaung di bawah koordinasi Disdik sembari menunggu penyehatan fiskal daerah.
Lebih lanjut, Khamim menegaskan restrukturisasi SOTK bukan sekadar ajang bongkar pasang birokrasi tanpa arah. Namun, murni upaya menciptakan keseimbangan beban kerja yang proporsional. Di sisi lain, dewan juga melontarkan kritik menohok agar birokrasi Pemkot Batu segera menghapus ego sektoral.
BACA JUGA: Ketua Komisi IV DPR RI Apresiasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan Nasional
Ia mencontohkan, optimalisasi sport tourism tidak bisa hanya mengandalkan satu dinas. Hal itu, kata Khamim menuntut sinergi lintas sektor bersama Dinas PUPR hingga DPKP. Tujuannya untuk membenahi kelayakan fisik di kawasan destinasi wisata. Dinamika mandeknya SOTK ini sebelumnya juga sempat memunculkan opsi alternatif, yakni meleburkan (merger) urusan olahraga ke dalam Dinas Pariwisata (Disparta).
BACA JUGA: Slot Babak 32 Besar Kian Menipis, AS, Meksiko, dan Jerman Berhasil Amankan Posisi Duluan
Merespons hal tersebut, Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto mengaku siap jika wacana itu kelak direalisasikan. Ia mengajukan syarat, yakni seluruh instrumen pendukung telah dikaji secara matang. “Ada beberapa indikator penilaian yang dilakukan oleh bagian organisasi. Tentu saja kami berharap sebelum di-merger, semua instrumen mulai dari kesiapan SDM, aset, hingga anggaran benar-benar sudah siap,” ujar Onny.
Meski demikian, Onny tidak menampik bahwa integrasi tersebut bakal membawa konsekuensi lonjakan beban kerja yang tajam. Berdasarkan draf kajian, Bidang Destinasi dan Bidang Pemasaran di Disparta harus dilebur menjadi satu demi memberi ruang bagi masuknya bidang olahraga.
BACA JUGA: Dulu Ditunggu, Kini Dikeluhkan: Bediding Kembali Melanda Malang Raya
Ia pun mengakui besarnya tantangan yang menanti. Apalagi mengingat instansinya yang selama ini fokus pada hilir pariwisata harus ikut memikul beban di sektor hulu. Salah satunya yakni pembinaan olahraga prestasi. Terkait kesiapan aparatur jika pergeseran itu benar-benar terjadi, Onny menyebut mekanismenya akan memutasikan SDM secara otomatis.
Hal ini dikarenakan aparatur di bidang tersebut rata-rata telah memegang jabatan fungsional spesifik. Misalnya, seperti penelaah olahraga. Jabatan itu membuat kinerjanya akan sulit dinilai jika mereka dipertahankan di instansi pendidikan.
BACA JUGA: Biar Gak Salah Pilih, Cek Aturan Sistem Rayon Jalur Prestasi SMA/SMK di Kota Batu
“Fokus kami di pariwisata kan bagaimana mendongkrak kunjungan lewat pihak yang ingin melihat event olahraga. Namun, kalau pada akhirnya harus ikut mengurusi pembinaan atletnya juga, itu tentu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan