BATU, RADAR BATU - Proses pembongkaran lapak pedagang di kawasan Simpang Patih atau Simpang Orchid Kota Batu resmi dimulai, Senin (26/5).
Alat berat mulai meratakan bangunan di sepanjang Jalan Indragiri sebagai bagian dari proyek pelebaran jalan dan pembangunan bundaran baru senilai miliaran rupiah.
Di tengah proyek revitalisasi tersebut, puluhan pelaku UMKM kini berada di ujung tanduk karena belum mendapatkan kepastian relokasi usaha dari pemerintah daerah.
Pantauan di lapangan menunjukkan ekskavator mulai menghancurkan sejumlah lapak semi permanen.
BACA JUGA: Makan Bakso dengan Pemandangan Alam Terbuka di Bakso Sayur UB Pujon
Tumpukan puing berserakan di beberapa titik, sementara pedagang lain masih nekat membuka usaha sambil menyelamatkan aset mereka secara mandiri.
Mobil bak terbuka tampak hilir mudik mengangkut peralatan usaha agar tidak ikut tergilas alat berat.
BACA JUGA: Fenomena Siswa Sulit Menikmati Momen karena Sibuk Mengabadikannya di Media Sosial
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu Esty Dwiastuti mengklaim proses pengosongan berjalan kondusif dan telah disosialisasikan sejak dua bulan lalu.
“Sebagian besar pemanfaat lahan menerima pembongkaran ini secara sukarela,” ujar Esty.
Beberapa usaha disebut sudah berpindah lokasi, mulai kantor kas perbankan, jasa pijat, hingga warung kecil yang memilih membongkar bangunan sendiri.
BACA JUGA: Menyatu dengan Alam Lewat Pengalaman Glamping di Maron Valley Pujon
Namun di balik klaim kondusif tersebut, nasib pedagang kecil masih menggantung.
Hingga kini, belum ada titik terang terkait lokasi relokasi permanen bagi puluhan pelaku usaha terdampak.
Wiwik Kusniati, pemilik Salon Bian, mengaku terpukul karena tempat usaha yang menjadi sumber penghasilan keluarganya selama 10 tahun harus dibongkar.
BACA JUGA: Fenomena “Mood Swing” pada Pelajar Muncul Lebih Sering saat Tugas Menumpuk
“Ini satu-satunya mata pencaharian keluarga saya. Sekarang belum tahu harus pindah ke mana,” keluh Wiwik.
Pedagang berharap Pemkot Batu segera memberikan kepastian relokasi agar roda ekonomi mereka tidak mati total pascapembongkaran.
Dua opsi lokasi yang sebelumnya diusulkan pedagang yakni lahan tandon air milik Perumda Among Tirto dan lahan kosong milik Polres Batu hingga kini belum mendapat keputusan final.
BACA JUGA: Nikmati Sensasi Camping di Lereng Pegunungan ATP UB Cangar
Sesuai rencana, proyek pelebaran jalan Simpang Patih akan berlangsung selama 150 hari kalender mulai akhir Juni hingga Desember 2026.
Jalan di kawasan tersebut bakal diperlebar hingga 10 meter lengkap dengan pembangunan bundaran baru untuk mengurai kemacetan.
Bagi pedagang, proyek itu dinilai justru meninggalkan persoalan sosial baru jika relokasi tak segera direalisasikan. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan