BATU, RADAR BATU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui kawasan pegunungan Kota Batu.
Memasuki musim kemarau pertengahan tahun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mulai memetakan tiga faktor kritis yang dinilai berpotensi memicu kebakaran besar akibat pengaruh anomali iklim El Nino.
BPBD bahkan mendesak pemerintah segera menetapkan status Siaga Darurat Karhutla untuk mempercepat koordinasi lintas sektor sebelum puncak kemarau terjadi pada Juli hingga September mendatang.
BACA JUGA: Fenomena Siswa Sulit Menikmati Momen karena Sibuk Mengabadikannya di Media Sosial
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menjelaskan, kerawanan pertama berasal dari dominasi vegetasi cemara gunung di kawasan hutan Kota Batu.
Jenis pohon tersebut mengandung resin tinggi sehingga sangat mudah terbakar ketika terkena percikan api.
“Sedikit saja terkena pemantik, vegetasi ini langsung cepat menyebarkan api,” ujar Gatot.
BACA JUGA: Fenomena “Mood Swing” pada Pelajar Muncul Lebih Sering saat Tugas Menumpuk
Ancaman kedua berasal dari tumpukan serasah daun kering dan alang-alang yang mengendap di lantai hutan.
Saat musim kemarau, material tersebut berubah menjadi bahan bakar alami yang sulit dikendalikan.
Menurut Gatot, api bahkan kerap merembet hingga ke bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu panjang.
“Bara di bawah tanah sering masih hidup meski api di permukaan terlihat padam,” katanya.
Sementara faktor paling berbahaya adalah topografi kawasan pegunungan Kota Batu yang ekstrem.
BACA JUGA: Nikmati Sensasi Camping di Lereng Pegunungan ATP UB Cangar
Mayoritas titik rawan berada di lereng curam dengan kemiringan mencapai 60 hingga 70 derajat.
Kondisi itu membuat pemadaman lewat jalur darat nyaris mustahil dilakukan secara cepat.
“Kalau api sudah naik ke tebing curam, personel darat sangat kesulitan menjangkaunya,” imbuhnya.
BACA JUGA: Yuk Mulai Hidup Sehat, Ini 5 Olahraga Ringan yang Cocok Buat Kamu yang Suka Mager
BPBD menegaskan, mayoritas pemicu kebakaran bukan berasal dari faktor alam, melainkan kelalaian manusia.
Praktik pembakaran lahan, puntung rokok pendaki, hingga aktivitas perburuan liar disebut menjadi penyebab utama munculnya titik api.
Berdasarkan catatan BPBD, lonjakan titik kebakaran paling tinggi biasanya terjadi pada Juli hingga September ketika aktivitas pendakian meningkat drastis.
BACA JUGA: Belum Akhir Bulan Tapi Dompet Sudah Menjerit, Pengeluaran Mei Bikin Orang Terpaksa Frugal Living
Mengantisipasi hal tersebut, BPBD mengusulkan penetapan status siaga darurat agar koordinasi pentahelix antara pemerintah, Perhutani, relawan, akademisi, dan masyarakat bisa diaktifkan lebih cepat.
Patroli Polisi Hutan (Polhut) di jalur rawan juga akan diperketat. Pendaki dilarang menyalakan api unggun selama musim kemarau berlangsung.
Selain itu, jaringan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa penyangga hutan mulai dioptimalkan untuk mendukung deteksi dini kebakaran.
BACA JUGA: Anak Muda Wajib Tahu! Tempat Nongkrong di Batu Sekeren Ini
“Mitigasi tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Warga sekitar hutan harus jadi garda depan,” tegas Gatot.
Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla dan kekeringan.
“Salah satu fokus utama adalah memastikan armada distribusi air bersih dan perlengkapan pemadam dalam kondisi siaga penuh,” tandas Heli. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan