BATU - Imbauan work from home (WFH) dari Pemerintah Kota Batu dinilai tidak relevan bagi sektor usaha berbasis jasa. Pelaku usaha, terutama di sektor pariwisata dan UMKM, memilih tetap menjalankan work from office (WFO) karena tuntutan operasional.
Pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kota Batu, Heru Subagio, menegaskan kebijakan WFH tidak bisa diterapkan secara merata di semua sektor.
BACA JUGA Realisasi PBG-SLF di Kota Batu Masih Ditopang Pengajuan Tahun Lalu
“Setiap sektor punya kebutuhan berbeda. Kalau industri pengolahan susu, kerja dari rumah bisa menurunkan produksi,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi Kota Batu sangat bergantung pada kehadiran fisik tenaga kerja. Operasional destinasi wisata tidak memungkinkan dijalankan dari jarak jauh.
“Di tempat seperti Batu Secret Zoo, pekerja harus merawat satwa langsung di lokasi,” jelasnya.
BACA JUGA Longsor Rusak Atap Rumah Warga Sumberbrantas Kota Batu
Hal serupa juga terjadi di sektor UMKM. Produksi makanan olahan seperti keripik buah dan olahan apel masih mengandalkan proses manual yang tidak bisa dipindahkan ke sistem kerja jarak jauh.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga menjadi kendala. Konektivitas internet di wilayah perbukitan dan sentra produksi dinilai belum merata untuk mendukung sistem WFH.
BACA JUGA Perusahaan di Kota Batu Wajib WFH 1 Hari per Minggu, Berlaku Sejak 6 April
Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha menilai kebijakan WFH kurang tepat diterapkan di Kota Batu yang berbasis ekonomi jasa dan pariwisata.
Editor : Fajar Andre Setiawan