BATU - Perbaikan fasilitas keselamatan di Jalur Klemuk, tepatnya di Jalan Raya Rajakwesi, masih mandek. Relawan dan masyarakat pun hanya bisa menunggu kepastian dari pemerintah. Padahal, sejumlah rencana perbaikan telah digulirkan sejak akhir 2025. Mulai dari penambahan jalur penyelamat di sisi kanan jalan hingga penguatan jalur penyelamat di sisi kiri dengan tambahan material pasir dan sekam.
Fasilitas tersebut dinilai krusial untuk menekan risiko kecelakaan di jalur menurun yang kerap dilalui kendaraan dari arah Kota Batu menuju Kabupaten Malang. Koordinator Relawan Klemuk Yes Yes (KYY) Suliyanto mengatakan sebagian rencana memang sempat direalisasikan. Namun, kebutuhan utama hingga kini belum terpenuhi.
“Sisi kanan belum ada progres sama sekali, masih lahan kosong,” ujarnya. Sementara itu, jalur penyelamat di sisi kiri juga belum optimal. Dibutuhkan setidaknya enam truk pasir agar fungsi pengereman darurat dapat bekerja maksimal, terutama bagi kendaraan yang mengalami rem blong.
Rangkaian kecelakaan di jalur tersebut menjadi catatan serius. Pada Desember 2025 lalu, insiden maut merenggut satu korban jiwa. Bahkan akhir Maret 2026, kecelakaan serupa kembali terjadi dan menewaskan seorang pemudik asal Surabaya.
BACA JUGA Libur Lebaran Tak Mampu Angkat Ekonomi Songgoriti
Sebagai langkah darurat, pemerintah sempat menutup jalur tersebut untuk kendaraan roda empat dan sepeda motor matik sejak akhir Desember. Namun hingga kini, kebijakan itu masih berlangsung tanpa kejelasan tindak lanjut perbaikan.
“Harapannya, selain pembatasan kendaraan, jalur penyelamat juga segera dilengkapi,” tambah Suliyanto. Relawan sebenarnya sempat berinisiatif menggalang donasi untuk mempercepat perbaikan. Namun, mereka memilih menunggu langkah konkret pemerintah. “Sekarang kami menunggu saja. Tidak ada rencana buka donasi lagi,” katanya.
BACA JUGA Rehabilitasi Jalur Klemuk Batu Mandek, Portal Diterobos, Usulan Rp150 Juta Ditolak
Terpisah, mantan Lurah Songgokerto Arsyam Dian Ramadhan membenarkan rencana perbaikan tersebut sudah disiapkan sejak kunjungan wali kota pada akhir 2025. Namun, realisasi program tersendat akibat perubahan struktur kepemimpinan di tingkat daerah dan kelurahan.
“Ada penyesuaian karena pergantian pejabat, termasuk lurah,” jelasnya. Meski demikian, ia memperkirakan program tersebut masih berproses dan akan dilanjutkan setelah penyesuaian administrasi selesai.
BACA JUGA Alarm Ekologis yang Diacuhkan
Kini, relawan dan masyarakat hanya bisa berharap rencana perbaikan segera direalisasikan. Mengingat jalur tersebut masih menyimpan potensi bahaya yang sewaktu-waktu dapat kembali memakan korban.
Editor : Fajar Andre Setiawan