Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (10): Bawang Prei di Bawah Langit yang Tak Lagi Ramah

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 8 April 2026 | 17:30 WIB
PANEN SUSUT: Samsul Hadi, salah seorang petani bawang prei menunjukkan kondisi tanaman di lahannya di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu pada Senin lalu (6/4).
PANEN SUSUT: Samsul Hadi, salah seorang petani bawang prei menunjukkan kondisi tanaman di lahannya di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu pada Senin lalu (6/4).

 

Anomali cuaca memicu ledakan hama dan biaya produksi. Petani bertaruh di antara kerugian dan harapan yang kian menipis. Penurunan produktivitas dari skala ton ke kuintal menjadi potret nyata kerentanan sektor hortikultura Kota Batu.

 

RORI DINANDA BESTARI

 

Langit di kaki Gunung Arjuno kini mudah berubah dengan cepat. Pagi cerah, siang bisa mendadak gelap. Kadang juga gerimis turun sebentar. Lalu matahari menyengat tanpa jeda.

Cuaca tak lagi bisa ditebak.

Di lahan sempit Desa Sumberejo, Kecamatan Bumiaji kegelisahan tumbuh. Bukan hanya pada petani, tapi juga pada tanaman. Sugianto berdiri lama di tepi lahannya seluas 200 meter persegi. Di situlah seluruh harapannya ditanam, meski daun bawang prei tak lagi tegak.

Warnanya menguning dan mulai melingkar layu. Sebagian membusuk dari akar. Sebagian lain mati perlahan. Hama datang tanpa kompromi akibat cuaca yang tak bisa ditebak. Kadang lembap berlebihan. Kadang panas ekstrem.

Kondisi itu jadi surga bagi hama, sekaligus mimpi buruk bagi petani. Sugi sudah mencoba banyak cara. Berbagai pestisida disemprotkan. Namun, hasilnya nihil. “Hama seperti kebal,” katanya pelan.

Kalimat itu terasa berat seolah menegaskan ketidakberdayaan. Biaya terus membengkak. Untuk pestisida saja, ia menghabiskan Rp1 juta. Angka besar untuk lahan kecil. Namun, penyemprotan tetap dilakukan. Bukan untuk untung, tapi untuk menyelamatkan sisa.

Masalah tak berhenti di situ. Pupuk kimia juga mahal, sementara kebutuhan terus naik. Sugi butuh 50 kilogram, tapi bantuan yang datang hanya 10 kilogram. Sisanya sudah pasti ia harus tanggung sendiri.

Hal itu membuat modal semakin terkuras. Padahal, hasil belum tentu ada. Waktu panen pun bergeser. Idealnya 70 hari tetapi kini bisa molor hingga tiga bulan. Penundaan tak selalu menyelamatkan, beberapa waktu justru kerap memperparah.

“Ditahan lama pun tetap gagal,” ujarnya. Di tengah situasi itu, air menjadi penolong terakhir.

Irigasi masih lancar karena sumber air masih tersedia. Air membantu menstabilkan suhu tanah dan mengurangi efek panas mendadak. Selai itu, juga menekan pembusukan.

Namun, itu belum cukup. Kerusakan sudah terlanjur terjadi. Hasil panen anjlok tajam. Dari 1 ton menjadi hanya 2 kuintal saja. Delapan ratus kilogram hilang dan lenyap bersama harapan.

Sebagian tanaman dibuang lantaran busuk, sehingga tak layak jual.

Di pasar, situasi tak lebih baik. Harga seringkali ikut jatuh. Sugi mengaku harga kerap tak sebanding dengan modal. Saat ini hanya Rp4 ribu per kilogram. Angkanya nyaris impas dengan biaya produksi. Tak ada keuntungan yang berarti.

Samsul Hadi, petani bawang prei lainnya bahkan pernah lebih rendah yakni hanya Rp2.500 per kilogram. Angka yang terasa pahit jika melihat harga ideal yang seharusnya Rp6 ribu. Namun, lagi-lagi pasar tak berpihak. Fluktuasi terjadi tiap musim, terutama saat panen raya.

Bulan Juli hingga Agustus, produksi juga ikut menurun. Dari 4 ton, kini hanya sekitar 3 ton. Penurunan itu terasa signifikan di tengah biaya yang terus naik. Pemupukan jadi pos terbesar yang dilakukan tiga kali dalam satu musim.

Dengan dosis yang meningkat, dari 30 kilogram menjadi 50 kilogram di akhir. Untuk bertahan, Samsul mencampur pupuk subsidi dan nonsubsidi. Strategi itu terpaksa dilakukan untuk menekan biaya. Kendati biaya tetap saja terasa berat. Sebab, risiko tak pernah hilang.

Petani kini tak hanya melawan alam, tapi juga ketidakpastian yang datang bersamaan. Bawang prei tetap ditanam, meski penuh taruhan. Di bawah langit yang tak lagi ramah, petani terus mencoba bertahan. (*/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #bawang prei #pertanian #Bumiaji #kota batu