KOTA BATU, RADAR BATU – Fakta baru mulai terungkap terkait insiden patahnya wahana Tiram di destinasi wisata Mikutopia pada Jumat (3/4) lalu. Faridha, ibu dari dua anak yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, membeberkan kronologi saat komponen wahana yang dinaiki buah hatinya tiba-tiba patah.
Faridha menceritakan, saat kejadian kedua anaknya yang masing-masing berusia 12 tahun dan 5 tahun sedang berada di atas wahana. "Yang dinaiki anak saya jeblok (patah). Tapi Alhamdulillah anak saya masih diberi keselamatan," ungkapnya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Minggu (5/4).
Menurutnya, insiden tersebut terjadi saat putaran wahana berada di posisi bawah. Sehingga kedua anaknya tidak mengalami luka fisik yang serius. Meski demikian, kejadian tersebut menyisakan trauma mendalam. "Alhamdulillah tidak apa-apa karena pas jatuh putarannya di bawah, cuma syok saja," imbuhnya.
Dirinya juga menyoroti kejanggalan pada wahana tersebut sebelum insiden terjadi. Berdasarkan pengamatan anaknya saat mengantre, wahana Tiram tersebut diduga sudah menunjukkan tanda-tanda yang aneh. "Kata anakku pas antre lihat wisatawan sebelumnya itu memang sudah tidak mau naik (beroperasi), kayak mau berhenti (tidak lancar)," jelasnya.
Kekecewaan Faridha memuncak ketika melihat respons petugas di lokasi saat kejadian. Ia menyebut jika saat wahana patah dan membentur komponen lain hingga rusak. Namun, tidak ada staf yang berjaga di area tersebut untuk memberhentikan wahana. Dirinya ditolong oleh pengunjung lain di lokasi kejadian.
“Pas kejadian tidak tahu yang nunggu (petugas) ke mana. Orang-orang pada teriak mencari staf-nya," beber dia. Ia menyayangkan sikap manajemen yang terkesan abai saat dirinya mencoba mengadu melalui pesan WhatsApp yang dia dapat dari akun resmi TikTok. "Saya coba ngadu japri lewat WA, tapi tidak ada perhatiannya. Responnya gitu saja," tambah Faridha.
Terkait alasan tidak melapor secara resmi di lokasi pada saat kejadian, Faridha mengaku saat itu fokus pada kondisi anak-anaknya.
Dengan adanya kejadian itu, Faridha mempertanyakan kelayakan wahana sebelum dibuka untuk umum. Bahkan, bisa membahayakan pengunjung saat volume kunjungan tinggi.
Pernyataan itu berbanding terbalik dengan klaim manajemen sebelumnya. Adanya perbedaan keterangan antara saksi korban dan pihak pengelola ini menjadi catatan penting terkait standar operasional prosedur (SOP) pengamanan dan pelayanan pengunjung di objek wisata baru tersebut.
Penulis: Rori Dinanda Bestari
Editor : A. Nugroho