Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Minim Loker, Jumlah PMI Terus Meningkat, Tingginya Pekerja Migran Jadi Sinyal Lemahnya Serapan Tenaga Kerja Lokal

Zanadia Manik Fatimah • Senin, 30 Maret 2026 | 15:30 WIB
URUS BERKAS: Ilustrasi Pekerja Migran mengurus berkas persiapan keberangkatan. FREEPIK
URUS BERKAS: Ilustrasi Pekerja Migran mengurus berkas persiapan keberangkatan. FREEPIK

 

BATU - Keterbatasan lapangan kerja lokal mendorong semakin banyak warga Kota Batu memilih bekerja ke luar negeri. Sepanjang 2024 hingga 2025, jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) asal kota wisata tersebut terus meningkat. Data Dinas Ketenagakerjaan Kota Batu mencatat, jumlah PMI naik dari 44 orang pada 2024 menjadi 53 orang pada 2025.

Sementara, hingga pertengahan Maret 2026, tercatat 13 orang telah berangkat sebagai PMI ke luar negeri. Fenomena ini menunjukkan tekanan pada pasar kerja lokal, terutama bagi lulusan pendidikan menengah ke bawah.

Mayoritas calon pekerja migran didominasi perempuan. Dari total 53 orang pada 2025, sebanyak 52 merupakan perempuan dan hanya satu laki-laki. Dari sisi pendidikan, lulusan sekolah dasar dan menengah mendominasi.

BACA JUGA Potensi Ekspor Tersandera Tiga Masalah, Legalitas Belum Rapi, Keterampilan Produksi Minim, dan Bahan Baku Terbatas

Lulusan SD tercatat 17 orang, SMP 16 orang, SMA 10 orang, dan SMK 8 orang. Sementara lulusan diploma dan sarjana masing-masing hanya satu orang. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Batu Mokhamad Forkan menyebut negara tujuan didominasi Asia.

“Penempatan terbanyak ke Taiwan dan Hong Kong, disusul Malaysia dan Singapura,” ujarnya. Taiwan menjadi tujuan utama dengan 23 orang, diikuti Hong Kong 19 orang. Sisanya tersebar di Malaysia, Singapura, hingga sebagian kecil ke Eropa dan Timur Tengah.

Jenis pekerjaan didominasi sektor domestik dan perawatan. Profesi caregiver menjadi yang terbanyak, diikuti pekerja rumah tangga. Forkan menilai peningkatan jumlah PMI tidak lepas dari terbatasnya serapan tenaga kerja di daerah.

BACA JUGA Pesan Makanan Online, Awas di Kota Batu Marak Jadi Sasaran Pencurian

“Banyak lulusan belum terserap sektor formal, sehingga memilih bekerja ke luar negeri,” katanya. Di sisi lain, keberangkatan PMI memberi dampak ekonomi bagi keluarga. Pendapatan dari luar negeri meningkatkan daya beli dan kualitas hidup.

Sebagian keluarga mampu memperbaiki rumah. Bahkan, purna PMI kerap kembali dengan modal usaha. Mereka mengembangkan sektor pertanian modern hingga usaha kecil di bidang kuliner dan wisata.

Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Suhartini Ningsih menyebut remitansi turut menggerakkan ekonomi lokal. “Uang kiriman berputar di pasar dan sektor jasa, sehingga memberi efek ganda,” ujarnya.

BACA JUGA Sopir Ngantuk, Mobil Boks Bermuatan Kue Pia Hantam Taman di Jalan Sultan Agung Kota Batu

Meski demikian, peningkatan jumlah PMI juga menyimpan risiko. Potensi keberangkatan nonprosedural atau ilegal masih terbuka. Karena itu, pengawasan hingga tingkat desa terus diperkuat. “Fokus kami bukan hanya jumlah, tetapi mendorong pekerja masuk sektor formal yang lebih aman dan terampil,” kata Suhartini.

Pemerintah kota juga menyiapkan langkah peningkatan keterampilan dan perlindungan hukum bagi PMI. Lonjakan PMI ini menjadi sinyal ganda. Di satu sisi membuka peluang ekonomi, di sisi lain mencerminkan belum optimalnya penciptaan lapangan kerja di dalam daerah.

Editor : Fajar Andre Setiawan
#pekerja migran #PMI Jawa Timur #migran