BATU - Upaya menekan timbulan sampah di Pasar Induk Among Tani kini diarahkan pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Pemkot Batu mulai mendorong pedagang dan pembeli beralih ke kemasan ramah lingkungan. Kebijakan itu disampaikan dalam rangkaian penataan pengelolaan sampah pasar yang tengah digencarkan tahun ini.
Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan mengatakan strategi reduce, reuse, recycle (3R) menjadi pendekatan utama dalam pengelolaan sampah pasar. Menurutnya, pengurangan plastik sekali pakai harus dimulai dari aktivitas transaksi sehari-hari.
“Pembeli kami dorong membawa kantong belanja sendiri. Penggunaan botol minum sekali pakai juga bisa dikurangi dengan membawa tumbler,” ujarnya. Selain plastik, pemerintah juga menyoroti sisa logistik pasar. Distribusi sayur dan buah dinilai perlu dikelola lebih efisien agar tidak menghasilkan limbah organik berlebih.
Dian menambahkan penggunaan kembali wadah distribusi seperti peti kayu, keranjang, dan kontainer plastik juga harus dimaksimalkan. Tujuannya agar tidak langsung menjadi sampah. Sementara untuk pengolahan limbah, Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) di kawasan pasar akan dioptimalkan.
BACA JUGA 195 Warga Masuk Verifikasi Bansos
Sampah organik akan diolah menjadi kompos menggunakan mesin pencacah. Sedangkan, sampah anorganik seperti plastik dan kardus dipilah untuk disalurkan ke bank sampah atau pengepul. “Tujuannya agar pengolahan dilakukan sejak dari hulu sehingga sampah yang berakhir di TPA bisa berkurang,” kata Dian.
Namun upaya pengurangan plastik ini juga memunculkan sejumlah tantangan di lapangan. Sejumlah pedagang menilai penggunaan kemasan alternatif belum sepenuhnya praktis untuk aktivitas perdagangan sehari-hari.
Tutik, pedagang bunga di Zona 8 Pasar Induk Among Tani, mengatakan sebagian pedagang sebenarnya sudah mencoba mengurangi plastik. Ia misalnya membungkus bunga segar menggunakan daun pisang.
“Kalau bunga bisa pakai daun pisang,” ujarnya. Namun bahan tersebut tidak selalu tersedia dalam jumlah cukup. Selain untuk bunga, daun pisang juga banyak digunakan sebagai pembungkus makanan sehingga pasokannya terbatas.
Sebagai alternatif lain, beberapa pedagang mulai menggunakan kertas untuk membungkus bumbu dapur atau barang belanja dalam jumlah kecil. Meski begitu, kemasan tersebut dinilai belum memadai untuk transaksi dalam volume besar.
Tutik mengatakan pedagang pada dasarnya mendukung kebijakan pengurangan plastik. Namun ia berharap pemerintah juga menyiapkan solusi konkret. “Kalau ada bahan pengganti yang disediakan, kami pasti ikut. Jangan hanya aturan,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan Sri Astuti, pedagang di Zona 7. Ia menilai kesadaran pembeli sebenarnya mulai meningkat. Menurutnya, kini semakin banyak konsumen yang membawa tas belanja sendiri saat berbelanja di pasar.
“Sekarang sudah banyak pembeli yang bawa kantong dari rumah,” ujarnya. Namun untuk komoditas tertentu seperti sayur dan buah dalam jumlah besar, penggunaan kemasan yang kuat masih menjadi kebutuhan utama.
BACA JUGA Kuota Vaksin PMK dari Pemerintah Pusat Dipangkas
Barang dengan bobot berat sulit dibungkus menggunakan bahan yang terlalu tipis atau mudah robek. “Kalau belinya banyak, bebannya berat. Kalau bukan plastik atau tas yang kuat, sulit dibawa,” katanya.
Meski demikian, Sri mengaku tidak keberatan mengingatkan pembeli agar membawa kantong belanja sendiri. Ia berharap pemerintah juga aktif mengedukasi masyarakat melalui kampanye publik agar perubahan kebiasaan tersebut dapat berjalan lebih cepat.
Editor : Fajar Andre Setiawan