BATU - Tekanan cuaca ekstrem mulai terasa di kebun-kebun apel Kota Batu. Dalam sepuluh hari terakhir, hasil panen menurun. Padahal permintaan pasar sedang naik menjelang Lebaran. Hal itu mendorong harga apel di tingkat petani menembus Rp28 ribu per kilogram.
Kenaikan harga terutama terjadi pada apel Manalagi. Petani apel di Kecamatan Bumiaji Utomo mengatakan harga komoditas itu kini berada di kisaran Rp25-28 ribu per kilogram. Sebelumnya, harga normal apel Manalagi berkisar Rp20-22 ribu per kilogram saja.
Baca juga Pemuda Asal Kota Malang Tewas setelah Tabrak Truk Parkir di Jalan Ir Soekarno Kota Batu
“Harganya tergantung kualitas buah,” ujar Utomo. Menurut dia, lonjakan harga bukan semata dipicu tingginya permintaan pasar. Namun, juga karena produksi tidak berada pada kondisi ideal.
Sementara, permintaan saat ini tidak hanya untuk konsumsi langsung, melainkan juga permintaan untuk kebutuhan bahan olahan menjelang Lebaran. Cuaca ekstrem, kata Utomo, tidak hanya memukul hasil panen, tetapi juga menyulitkan perawatan tanaman.
Baca juga Tolak Ajakan Mencuri, Pria Dihantam Palu di Warung Kopi dekat Balai Kota Among Tani Batu
Dampaknya, tidak semua pohon mampu berbuah maksimal. Ia memperkirakan produksi apel turun sekitar 20 persen dibandingkan kondisi normal. Penurunan itu membuat pasokan ke pasar menyusut.
Dalam situasi seperti ini, kenaikan harga menjadi sulit dihindari. Meski begitu, Utomo menilai apel jenis Anna masih menunjukkan kualitas yang relatif lebih stabil dibandingkan varietas lain.
Baca juga Pedagang Pakaian Pasar Induk Among Tani Kota Batu Terpuruk, Sehari Cuma Laku 4 Potong
Petani apel lain, Alfan, menyampaikan hal serupa. Menurut dia, musim yang tidak menentu membuat perawatan kebun menjadi lebih berat. Banyak pohon tidak menghasilkan buah secara optimal.
Alfan menambahkan, turunnya produksi langsung berpengaruh pada pasokan pasar. “Ketika jumlah buah yang dipanen berkurang sedangkan permintaan meningkat, harga di tingkat petani otomatis naik,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan