BATU - Aktivis kemanusiaan sekaligus Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak (PA) Kota Batu Rudi Budianto membeberkan lonjakan pekerja perempuan itu diduga erat kaitannya dengan tingginya angka perceraian. “Banyak dari mereka yang harus menjadi single mother atau tulang punggung keluarga,” bebernya.
Menurutnya, banyak perempuan kini memilih bekerja karena keharusan menghidupi diri sendiri setelah lepas dari ikatan pernikahan. Rudi juga mengamati adanya pergeseran psikologis di kalangan perempuan muda. Saat ini, memiliki penghasilan sendiri dianggap sebagai bentuk benteng pertahanan sebelum atau saat menjalani rumah tangga.
“Misalnya ditinggal suami atau terjadi masalah ekonomi, mereka sudah siap. Jadi bukan hanya karena ingin, tapi karena mereka tidak ingin bergantung lagi," jelasnya. Menariknya, pandangan kaum laki-laki terhadap istri yang bekerja juga mulai melunak. Jika dulu ada ego hanya laki-laki yang bekerja, kini kondisi ekonomi memaksa pergeseran paradigma tersebut.
Banyak suami yang justru merasa terbantu jika pasangannya turut serta mencari nafkah. Bahkan, saat ini akses pekerjaan di sektor pemerintahan juga sudah memiliki ruang khusus untuk perempuan. Misalnya, kursi DPRD yang harus diisi minimal 30 persen perempuan. Bahkan, banyak kepala daerah ataupun direktur yang kini dijabat oleh perempuan.
Meski begitu, ada beberapa persoalan klasik yang masih menghantui. Salah satunya ketimpangan upah. Di wilayah pedesaan Kota Batu, perbedaan gaji antara buruh tani laki-laki dan perempuan masih terjadi secara sistematis. Alasan kekuatan fisik sering kali menjadi dalih bagi pemberi kerja untuk membayar perempuan lebih murah.
"Di desa, kalau laki-laki dibayar Rp50 ribu, perempuan mungkin cuma Rp35-40 ribu. Alasannya, laki-laki bisa angkat-angkat berat," papar Rudi. Fenomena perempuan bekerja hingga ke sektor kasar seperti ojek online hingga potensi menjadi kuli bangunan bukan lagi hal mustahil jika himpitan ekonomi terus menekan.
Dengan kenaikan angka angkatan kerja yang signifikan di tahun 2025, Kota Batu kini menghadapi tantangan besar. Pemerintah harus memastikan perempuan bukan sekadar menjadi objek industri. Namun, sepenuhnya menjadi subjek yang terlindungi dan dihargai secara setara. (ori/dre)
Baca Juga: 399 Siswa di Kota Batu Berebut Beasiswa Seribu Sarjana
Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian