BATU - Keterbatasan jumlah pegawai di Perpustakaan Kota Batu kembali menjadi sorotan. Pakar perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) Dr Setiawan SSos MIP menegaskan kebutuhan ideal tenaga kerja perpustakaan kota minimal 18 orang. Sementara saat ini, jumlah pegawai yang tersedia hanya sekitar 8-10 orang.
Menurut Setiawan, standar kebutuhan tersebut merujuk pada enam bidang layanan utama yang wajib dimiliki perpustakaan kota, yakni pengadaan, pengolahan, layanan, teknologi dan informasi, administrasi, serta serial. Setiap bidang idealnya diisi tiga hingga empat pegawai.
“Jika dihitung secara sederhana, kebutuhan paling dasar memang sekitar 18 orang,” ujarnya.
Kekurangan sumber daya manusia (SDM) berdampak langsung pada kualitas layanan. Tidak semua permintaan kunjungan dari sekolah maupun instansi dapat terlayani optimal. Kondisi itu ikut memengaruhi angka kunjungan perpustakaan yang cenderung menurun.
Selain keterbatasan tenaga, perpustakaan juga menghadapi perubahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Tantangan ini menuntut perpustakaan beradaptasi lebih cepat.
Kendati begitu, Setiawan mengapresiasi langkah inovatif yang telah direncanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terkait digitalisasi dan pemanfaatan AI. Namun, ia menegaskan pemenuhan SDM tetap menjadi fondasi utama. Tanpa tenaga yang memadai, pelayanan berisiko tidak maksimal karena keterbatasan petugas.
“Pemenuhan SDM akan meminimalkan kendala layanan dan berpeluang mendongkrak angka kunjungan,” tegas alumnus UIN Sunan Kalijaga itu. Ia menambahkan, perpustakaan modern memang harus adaptif terhadap digitalisasi. Fasilitas fisik yang nyaman, jaringan internet cepat, serta koleksi digital seperti e-book menjadi faktor penting.
Menurutnya, penguatan literasi harus dimulai sejak dini. Anak-anak perlu dikenalkan pada buku melalui kunjungan rutin ke perpustakaan dengan pendampingan orang tua dan guru. Upaya tersebut dinilai strategis untuk membangun budaya baca jangka panjang.
Setiawan menegaskan, seluruh rencana inovasi perlu dikawal agar tidak berhenti pada wacana. “Jika bisa dieksekusi dengan baik, itu akan berdampak pada peningkatan kualitas SDM di masa depan,” tandasnya.
Menjawab persoalan tersebut, Pemkot Batu menyiapkan sejumlah langkah pembenahan. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Batu Abdul Rais menyebut pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi salah satu fokus.
“Ke depan, TBM tidak hanya menjadi ruang baca, tetapi ruang publik yang nyaman dengan fasilitas pendukung,” katanya. Fasilitas itu antara lain peningkatan kecepatan internet dan penambahan ruang santai seperti kafetaria. Dispersip juga berencana mengembangkan aplikasi e-perpustakaan Kota Batu agar akses koleksi digital semakin mudah.
Selain itu, AI pun mulai dilirik sebagai media pelengkap, khususnya untuk memvisualisasikan cerita lokal yang telah dibukukan melalui lomba literasi. Teknologi tersebut diharapkan mampu memperkaya pengalaman literasi, terutama bagi generasi muda. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho